Minggu, 16 September 2012

Google Menolak Permintaan Gedung Putih Copot Film Anti-Islam

Berita Satu
Google telah membatasi akses (ke film Anti-Islam) itu di negara-negara di mana itu dinyatakan ilegal, seperti di India dan Indonesia, serta di Libya dan Mesir, mengingat situasi yang sangat sensitif di kedua negara."
Google telah menolak permintaan Gedung Putih untuk "meninjau" penayangan film anti-Islam, "Innocence Muslims", yang telah memicu protes anti-Amerika di negara-negara Muslim, dalam salah satu upaya Amerika Serikat untuk meredakan kontroversi.
Google mengatakan memilih lebih membatasi akses ke klip-klip di YouTube daripada berurusan dengan hukum setempat.

"Kami telah membatasi akses (ke film Anti-Islam) itu di negara-negara di mana itu dinyatakan ilegal, seperti di India dan Indonesia, serta di Libya dan Mesir, mengingat situasi yang sangat sensitif di kedua negara. Pendekatan ini sepenuhnya konsisten dengan prinsip kami yang pertama dicanangkan pada 2007," tulis jawaban resmi Google.
Sebelumnya pemerintahan Obama mendesak YouTube untuk "meninjau" penayangan film anti-Islam itu.
"Itu adalah respon terhadap video, film, yang kita nilai tercela dan menjijikkan. Namun kekerasan yang mengikutinya sama sekali tidak bisa dibenarkan. Tapi ini bukan kasus protes yang diarahkan pada Amerika Serikat atau kebijakan AS. (kemarahan) itu reaksi sebagai tanggapan atas video yang menyinggung Muslim," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Jay Carney.
Pernyataan itu berbeda dari sebelumnya, kemungkinan karena pemerintah AS melihat skala protes terhadap film itu yang sangat besar dan luas.
Hanya sehari sebelumnya, pada Kamis, Menteri Luar Negeri, Hillary Clinton, juga mengutuk film itu, namun bersikeras bahwa film itu harus diizinkan disiarkan dalam rangka membela prinsip kebebasan berekspresi.
Film dengan judul bernada ironis itu, dengan durasi sekitar 14, dibuat oleh seorang Amerika-Mesir beragama Kristen Koptik, dan disebut menjadi alasan untuk demonstrasi dan penyerangan terhadap Kedutaan AS dan negara Barat lainnya pada lebih dari dua puluh negara-negara Muslim.
YouTube belum menanggapi permintaan Gedung Putih, tapi sebelumnya menolak untuk mencopot film itu, dan hanya mau secara selektif memblokir akses untuk melihat film itu di negara-negara di Timur Tengah.
"Film ini- yang tersedia di web-jelas telah memenuhi pedoman kami, dan akan tetap ada di YouTube. Namun, mengingat situasi yang sangat sulit di Libya dan Mesir, kami sementara memblokir akses di kedua negara itu," kata pernyataan sebelumnya dari perusahaan milik Google itu.
YouTube kemudian menambahkan banyak nama negara lain, dengan penduduk Muslim yang besar, ke dalam daftar blokir itu.
Film beranggaran rendah itu, yang sebenarnya sudah di-upload di YouTube selama berbulan-bulan dengan hanya segelintir pemirsa, mengejek Islam dan menyajikan Nabi Muhammad sebagai seorang pedofil.
Namun setelah film itu disulih suara ke dalam bahasa Arab, dan cuplikannya disiarkan dan diperdebatkan di televisi Mesir, jumlah page view melonjak ribuan kali.
Beberapa negara, seperti India dan Pakistan, mengambil langkah-langkah proaktif dan meminta agar YouTube memblokir film itu.
Afghanistan telah menghentikan akses waraganya ke YouTube, sampai yang bersangkutan menghapus film itu dalam situsnya.
sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar