Tampilkan postingan dengan label amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amerika. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

White House for Protest?

Banyak pilihan untuk berwisata. Apapun dan kemanapun pilihan kita, tentu saja ada alasan masing-masing kenapa pilihan tersebut kita ambil. Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk mengunjungi Gedung Putih (White House), yang merupakan tempat nomor satu di Amerika. Ia menjadi nomor satu, karena di tempat inilah semua presiden Amerika ‘bekerja’ dan tinggal secara bergantian. Di bawah atap gedung inilah orang nomor satu itu berteduh.

Gedung ini menjadi menarik bukan hanya karena arsitekturnya yang bergaya Georgia Neoklasik, tapi juga kejadian-keadian di seputaran gedung ini. Gedung yang sudah berdiri selama tidak kurang dari 200 tahun ini tepatnya berada di Pennsylvania Avenue. Washington DC. Menurut catatan, bahwa yang menjadi arsitek pembangunan gedung ini adalah seorang warga Amerika keturunan Irlandia bernama James Hoban.


Nah, di dalam gedung putih ini ada ruangan yang dinamakan Blue Room. Ruangan ini dikenal juga sebagai pusat dari Lantai Negara. Selama bertahun-tahun, bentuk oval dari ‘Ruang Biru’ selalu saja menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Secara turun temurun Blue Room ini telah  menjadi tempat spesial bagi presiden untuk secara resmi menerima tamu. Atau juga kunjungan resmi dari kepala-kepala negara dan pemerintahan negara lain.

Lalu di ruang mana orang nomor satu di Amerika itu bekerja? Ada sebuah ruang bernama Oval Office, di situlah tempat yang menjadi kantor pribadinya. Ruang ini terletak di tengah West Wing, dari sini juga presiden bisa langsung masuk ke Ruang Kabinet. Kalau ada pidato khusus yang sering ditayangkan TV, hampir selalu mengambil tempat di ruangan kerjanya itu. Icon keseluruhan gedung putih sebenarnya ada di Oval Office ini.
Semenjak beberapa tahun terkahir, jarak kunjungan wisatawan semakin dibatasi. Tapi bagi para wisatan mungkin saja itu bukan soal, sebab masih banyak tempat wisata lainnya di seputaran DC yang tak kalah menarik. Bahkan bagi saya, mengunjungi gedung putih tidak melulu adalah untuk melihat gedungnya. Yang lebih menarik adalah apa yang sedang terjadi di sekitarnya.



Saat itu saya dan sebagian wisatawan Eropa dan Asia yang berkunjung ke White House, sangat tertarik justru dengan apa yang saya istilahkan sebagai “wisata protes” atau “wisata demo”. Kenapa begitu? Jelas sekali bahwa karena inilah tempat berkantornya orang nomor satu di Amerika, maka sudah biasa, sangat lumrah bahwa hampir setiap saat ada saja yang melakukan aksi protes dan demonstrasi di depan maupun belakang gedung ini. Kita dapat melihat gedung ini dari sisi depan maupun belakang soalnya.
Melakukan aksi protes dan demonstrasi sering menjadi pusat perhatian para wisatawan, tentu saja dengan penjagaan polisi dan pihak keamanan gedung putih atau Secret Service. Kalau Anda membawa kamera yang bisa dizoom dengan jarak yang cukup, maka akan terlihat beberapa anggota Secret Service bersenjata lengkap lalu-lalang di atas atap gedung ini. Herannya, dengan penjagaan seperti itu, baru-baru ini surat kabar memberitakan bahwa telah ditemukan peluru yang ditembakkan seseorang ke arah gedung putih, namun terhalang kaca anti peluru. Menurut berita, orangnya sudah tertangkap.


Pernah ada aksi protes semasa Bush memerintah, ia dituding sebagai penjahat perang. Orang-orang dan komunitas ‘anti war’ menentangnya habis-habisan. Aksi itu mendapat sambutan meriah dan serius oleh banyak wisatawan. Seorang yang katanya berasal dari Costarica mengatakan kepada saya “I hate war. I will never ever tolerate war for any reason”. Ia lalu mengajak saya untuk berfoto diantara para pemrotes tersebut.

Wisata ke gedung putih tentu mendapat banyak hikmah positif. Bahwa di balik kemegahan dan kekuasaan para pejabat tinggi negara yang berdiam di dalam gedung itu, di luar gedung terdapat sejumlah orang yang berteriak-teriak menuntut keadilan, menuntut persamaan dan kesetaraan, ada yang minta pembukaan lapangan kerja baru, ada yang menagih janji kampanye. Ada yang protes keras terhadap kebijakan perang. Kebisingan dan riuh rendahnya protes dan demo itu sepertinya sudah menjadi sarapan pagi dan makan siang, bukan hanya bagi para wisatawan, tapi juga mereka yang ada dalam gedung berwarna putih itu. Ada yang membawa spanduk-spanduk berisi protes mereka, pamphlet, bahkan ada yang berdandan bagai badut.


Eh, lagi asyik foto-foto, tiba-tiba segerombolan anjing-anjing pelacak lewat, wah bagus banget bentuk badannya. Entah lagi dalam rangka latihan, atau ada kepentingan lain, anjing-anjing itu dibawa naik ke sebuah mobil truk. Anjing yang memiliki penciuman 1000 kali lebih tajam dari manusia itu tentu sudah dilatih sangat lama dan ketat. Bahkan bukan hanya di DC, di banyak airport di Amerika mereka juga sering dipergunakan. Para petugas sangat membutuhkan penciuman mereka yang sangat tajam itu. Seorang kawan asal Ghana sempat nyerocos, “Seekor anjing aja bisa masuk bebas ke dalam sana, kenapa saya tidak boleh yah?” Dasar!
Sekarang mari kita memutar agak kebelakang, di situ juga sering terlihat ada kelompok-kelompok yang lebih kecil menggelar aksi protes mereka, walau tentu saja tak semeriah yang di depan. Di sini masih lebih banyak kumpulan-kumpulan orang yang hobby foto, santai-santai, dan ada juga sebagian yang melakukan aksi negosiasi bisnis. Tidak terlalu jauh dari tempat ini terlihat menjulang tinggi bangunan berbentuk seperti Monas. Ini mungkin adalah Monas-nya Washington DC.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa gedung tempat orang nomor satu ini bekerja adanya di Washington DC sebuah propinsi yang biasa-biasa saja, tidak besar dan tidak terlalu ramai. Kenapa bukan di New York, Chicago, atau California, Florida, dan sebagainya? Tapi itulah mungkin bedanya dengan yang di Indonesia.
Di Indonesia Istana Presiden itu adanya di Jakarta, pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis dan belanja. Kota-kota besar di Indonesia sepertinya “harus” menjadi ibukota propinsi. Sebut saja Surabaya, Medan, Palembang, Manado, Ambon, dan semua kota besar lainnya, pusat belanja dan bisnis itulah yang kemudian menjadi ibu kota propinsi. Jakarta menjadi ibu kota negara. Semuanya disatukan di kota besar.
Hal itu tidak terjadi di Amerika. Semua ibu kota propinsi, adalah kota-kota kecil. Lihat saja, New Jersey memiliki banyak kota besar seperti Newark, Atlantic City, dan lainnya tapi ibu kotanya justru kota tua dan kecil, rumah-rumahnya banyak yang sudah berusia ratusan tahun, bernama Trenton. New York memiliki Manhattan, tapi ibu kota New York adalah kota kecil bernama Albany. Ibu kota negara juga dipilih Washington, DC. Itu semua karena mereka menjadikan ibu kota ‘hanya’ sebagai pusat pemerintahan semata, terpisah dengan pusat belanja dan dagang yang dipenuhi mall-mall raksasa dan supermarket-supermarket besar. Kota-kota yang terbilang tenang dan bebas dari hiru-pikuk itulah yang dijadikan ibu kota.
Oleh karena itu jangan heran kalau Anda berkunjung ke Washington, yang ditemui kebanyakan adalah kantor-kantor. Pusat perkantoran dan pemerintahan negara ada di sini. Hanya beberapa blok dari White House juga ada gedung parlemen, Capitol Hill. Dan terlihat juga berdiri megah tapi agak menyeramkan gedung milik FBI. Begitu banyak headquarter kantor-kantor pemerintahan, bank, maupun kantor swasta lainnya ada di sini.

Akhirnya, betapa kita akan tergerak hatinya melihat kekontrasan keadaan di sekeliling gedung putih, kemegahannya yang dibayang-bayangi protes, demostrasi dan kecaman. Di sisi lain juga di beberapa sudut jalan sekitar gedung putih, masih saja terlihat para anak-anak jalanan dan pengemis duduk meminta belas kasihan setiap yang lewat. Ternyata, dimana pun di ujung bumi ini dua sisi mata uang yang kontras selalu berlaku. Ada kemegahan ada kekurangan. Ada yang begitu kaya, tapi ada juga yang sangat miskin. Ada yang menolak, ada yang menerima. Ada yang setuju, ada pula yang tidak.
Inilah perjalan wisata yang olehnya saya mendapat banyak masukan, wawasan, dan pengalaman. Sebelum beranjak pulang, teman saya yang dari Ghana itu bilang, “I’ll standing here still, to protest him to not let me in!” Dasar sableng! Ia lalu kutingggal pergi menuju mobil yang diparkir lumayan jauh di ujung lorong.

Minggu, 28 Agustus 2011

Kenapa Banyak Artis Pilih Amerika?



Apa yang menyebabkan begitu banyak artis/penyanyi / grup musik (celebrity) Indonesia hijrah, sekolah atau belajar dunia acting di Amerika? Walau banyak yang sekedar jalan-jalan, tapi tidak sedikit yang memang berniat ke Amerika untuk belajar pun untuk menetap.

Menurut CelebrityNews begitu banyaknya artis yang sudah dan berniat untuk sekolah akting di Amerika beberapa diantaranya adalah Luna Maya, mantan presenter dahsyat, yang sementara belajar serius dan menekuni dunia kesutradaraan. Ia berniat untuk fokus sekolah mengenai sutradara di Amerika Serikat.

“Sekolah broadcast mungkin saja, why not? Kalau ada uangnya aku mau ngambil short course di New York atau LA karena mereka kan pusatnya. Paling enggak pergi selama enam bulan atau setahun untuk belajar teknis menjadi sutradara. Kalau feel sama rasa kan belajar dimana saja bisa. Tapi kalau teknis kan perlu dipelajari,” (Luna Maya: CelebrityNews).



Kemudian, sebut saja Cinta Laura yang katanya selain dunia acting, ia tertarik juga dengan Ekonomi dan Psikologi. Amerika adalah pilihannya untuk bersekolah. Lalu siapa lagi? Sherina. Penyanyi remaja yang cantik ini mematok rencana bahwa pada 2012 nanti ia ingin bersekolah di Amerika. “Iya waktu itu gue lagi fokus untuk menyelesaikan album dulu, tapi pastinya pada tahun 2012 gue akan pergi ke Boston untuk kuliah ambil jurusan Film Scoring,” (Sherina: IndonesiaSelebriti.com)

Masih banyak yang lain. Ada Mariana Renata yang terus mencoba dan menjajaki dunia modeling di luar negeri seperti Australia, dan bahkan target selanjutnya adalah New York Amerika.

Nama-nama lain seperti Ratu Felisha, Dian Sastrowardoyo, Indah Dewi Pertiwi juga memilih Amerika sebagai tempat belajar acting mereka. Bahkan ada sebagian yang berniat untuk tinggal menetap, mencari keberuntungan dunia acting di negeri Paman Sam. Indah Dewi tak tanggung-tanggung, ia belajar gerakan tarian bersama Luam Keflezgy seorang koreografer internasional yang pernah menangani penyanyi terkenal Beyonce, Rihanna dan Kanye West.

Aktor Atalarik Syah (pemeran Prabu Wijaya dalam sinetron Putri Yang Ditukar) peraih aktor terbaik tahun ini, ternyata pernah juga mendalami dunia acting di Amerika.

Lalu kenapa Amerika dijadikan pilihan? Jawabannya mungkin tidak susah-susah. Lihat saja bagaimana kualitas peran para pemain film maupun penampilan panggung para penyanyi Amerika Serikat, maupun para jebolan sekolah akting-nya. Apa perbedaan mendasar kualitas peran para pemain Hollywood dan para aktor/aktris kita? Mungkin itulah yang belum bisa dijembatani dan diberikan sekolah-sekolah acting di tanah air, sehingga berbondong-bondonglah mereka ke Amerika.

Pertanyaannya apakah ada pengaruhnya belajar acting di Amerika? Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Banyak faktor yang menentukan memang. Tapi tak dapat dipungkiri juga bahwa keseriusan dan teknologi pendukung sekolah-sekolah akting di Amerika tak diragukan lagi. Sangat membantu menjadikan sekolah-sekolah ini the best dan paling dicari. Lihat saja, menurut Zach Feral, seorang pengamat dan penulis dunia acting terkenal menurunkan laporannya tentang 10 sekolah acting terbaik di dunia. Ternyata lima sekolah ada di Amerika Serikat dan limanya lagi di Inggris. Masuk salah satu di antara 10 terbaik ini, dipastikan akan membuat langkah sukses di dunia akting semakin nyata. Semakin bersinar. Semakin maknyus.

1. The Juilliard School. Sekolah acting sangat berkelas ini luar biasa kompetitif. Bahkan untuk tembus di sekolah ini lebih sulit daripada untuk tembus ke Harvard University. Sekolah ini sudah sangat terkenal dan diketahui sebagai Best of The Best. Sekolah acting nomor wahid di seantero jagad ini. Tertarik? Ini alamatnya: The Juilliard School, 60 Lincoln Center Plaza, New York, NY 10023-6588.

2. The Oxford School of Drama. Sepertinya ini adalah the 2nd best. Sangat terkenal di Inggris. Sekolah acting ini masih ada hubungannya dengan Oxford University yang terkenal itu. Alamatnya: Sansomes Farm Studios, Woodstock, Oxford OX20 1ER, England, United Kingdom.

3. Yale School of Drama. Kalau ukurannya adalah tingkat kelulusan, sekolah ini menempati urutan nomor 1 di dunia. Lulusan dari sekolah ini juga mantap-mantap! Cobalah sekali-kali jalan-jalan ke State of Connecticut, hanya 4 jam dari New Jersey. Yale School of Drama, 149 York Street, New Haven, CT 06511, America.

4. Royal Scottish Academy of Music and Drama. Kalau yang ini sudah pasti sangat terkenal di Scotland. Royal Scottish Academy of Music and Drama, 100 The Centre, City Centre, Glasgow G2 3DB, Scotland, United Kingdom.

5. New York University’s Tisch School of the Arts. Nah, para pemain theater di Broadway banyak yang lulusan sekolah ini. Berada di jantung kota dan di tempat yang sangat strategis serta ideal, sekolah ini tentu saja menjadi pilihan. NYU Tisch School of the Arts, 721 Broadway, New York, NY 10003.

6. Guildhall School of Music and Drama. Sekolah yang tepat berada di jantung kota London ini juga bukan sekolah main-main. Lokasinya? The theater capital of the United Kingdom. Guildhall School of Music and Drama, Silk St., Barbican, London EC2Y 8DT, England, United Kingdom.

7. American Conservatory Theatre. Sekolah acting ini berdiri megah di salah satu tempat yang menjadi “markas” berdiamnya warga Indonesia di Amerika. Dimana? California! American Conservatory Theatre, 415 Geary Street, San Francisco, CA 94102.

8. Birmingham School of Acting. Birmingham School of Acting, G2 - Millennium Point, Curzon Street, Birmingham, B4 7XG, England, United Kingdom.

9. American Repertory Theatre. American Repertory Theater, Loeb Drama Center, 64 Brattle Street, Cambridge, MA 02138.

10. London Academy of Music and Dramatic Art. Sekolah ini sudah dimuai sejak abad ke-19. Dan mungkin merupakan sekolah acting tertua di dunia. London Academy of Music and Dramatic Art, 155 Talgarth Road, London W14 9DA, England, United Kingdom.

Memang menurut Finroll.com masih sangat sedikit selebriti Indonesia yang mampu menembus Hollywood. Tetapi bukan tidak ada. Sulit memang, tapi ada yang berhasil memapaki karirnya di sana. Sebut saja Tania Gunadi yang mungkin tak terlalu terkenal di Indonesia, tapi malah gadis kelahiran Bandung ini berkiprah dan menjadi bintang sejumlah televisi dan layar lebar di Amerika.

Tania sekolah akting di Amerika dan kemudian mencoba keberuntungan dengan memainkan peran-peran pendek, seperti menjadi seorang penari pada film pertamanya yang berjudul ‘A Real Job’. Lalu ia mulai dikenal sebagai pemain dalam sejumlah produksi TV Disney Channel. Ia berperan sebagai Allison Wong dalam serial komedi Disney Channel berjudul ‘Even Stevens’. Ia juga pernah membintangi film ‘Star Trek: The Voyager’. Dan akhirnya mendapat peran penting dalam sebuah film Disne Channel ber-title: Pixel Perfect. Ia juga sempat berperan sebagai orang Indonesia dalam sebuah drama seri dari FOX Channel berjudul Boston Public. Yang pengambilan gambarnya mengambil latar kota pelajar Boston. Masih banyak yang ia bintangi antara lain: The Magic of Ordinary Days bersama bintang Hollywood terkenal Keri Russel. Tania semakin terkenal ketika membintangi film seri Aaron Stone, berperan sebagai Emma Lau. Ia tampil dalam 21 episode.

Kemudian artis penyanyi yang pernah tampil di New York dan New Jersey, seperti Anggun C Sasmi, Group Band SLANK, STINKY, Agnes Monica dan beberapa lainnya. Ini juga menunjukkan bahwa untuk bisa tampil atau pun “sekedar bisa tampil” di Amerika merupakan dambaan selebrity Indonesia. Tidak semua memang. Tapi pada umumnya. Kalau yang sekedar jalan-jalan juga banyak, saya sempat ketemu Lidya Kandouw, Ari Wibowo, Ira Wibowo, Katon, Nafa Urbach, dan beberapa lainnya. Rupa-rupanya New York selalu menjadi daya tarik bagi sebagian mereka. Magnet The Big Apple New York serasa begitu kuat. Semoga dengan belajar di sekolah-sekolah akting tingkat dunia, kualitas dunia akting di Indonesia semakin maju. Masak sih para politisi lebih jago ber-akting daripada artis atau aktor dunia perfileman?

Social Security Bagi Warga Indonesia? Why Not...

Pertanyaan simple ini pernah saya tanyakan atau usulkan kepada Dr.Ryaas Rasyid seorang pakar otonomisasi dan desentralisasi pada waktu ia berkunjung ke Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Saya bilang kenapa tidak sebaiknya setiap penduduk Indonesia diusahakan untuk memiliki Social Security Number (Nomor Jaminan Sosial) atau di Amerika dikenal dengan SSN (SS#). Beliau bilang hal itu sudah pernah ia pikirkan tapi masalahnya teknologi di Indonesia belum sepenuhnya bisa mendukung.

Pertama mari kita buka-buka dulu, makanan macam apa sih SS itu? Social Security adalah suatu nomor unik yang diberikan bagi setiap warga negara sejak ia lahir, atau juga bagi para pendatang (immigrant) yang secara khusus mendapat ijin kerja (working permit) atau juga kepada mereka yang telah pindah kewarganegaraan. Nah, SSN ini unik dan setiap yang memiliki nomor ini akan mendapatkan kartu yang dinamakan Kartu Jaminan Sosial atau Social Security Card. Tidak ada pemilik SSN yang memiliki nomor yang sama. Bagi warga Amerika atau pun pendatang yang bekerja di Amerika, SSN ini adalah “nyawa” mereka. Tanpa ini segala sesuatu akan sulit dan terhambat. Ibarat mobil tanpa roda. Tidak bisa bergerak, kalaupun bisa jalannya pasti terseok-seok lalu mogok.



Apa sih keuntungan memiliki SSN? Banyak! Keuntungan dari pihak pemerintah sebagai penerima pajak dan keuntungan bagi pemegang kartu SS ini. Win-win solution. Dengan adanya SSN maka pembayaran pajak warga negara terkontrol. Tidak bisa tidak, semua yang bekerja dengan menggunakan SSN harus membayar pajak. Perhitungannya jelas dan terkontrol. Di sisi lain, akan sangat sulit bagi mereka yang tidak memiliki SSN untuk mendapatkan pekerjaan, apalagi setelah tahun 2008. Semua semakin ketat. Kecuali mereka yang masih berani bekerja di bawah tangan yang bakalan tidak tenang dan nyaman, artinya bekerja tanpa surat-surat jelas. Tapi perusahaan yang sudah mempekerjakan mereka yang tidak memiliki SSN, atau istilah untuk sesama orang Asia Tenggara termasuk Indonesia sebagai “orang gelap” akan dikenai denda paling kurang 10.000 USD per orang. Tentu perusahaan tidak mau merogoh kocek sebanyak itu, jadi penerimaan karyawan pun pastilah akan diperketat.

Apabila Anda adalah tenaga professional yang ditransfer secara resmi dari perusahaan Anda dan memiliki reciprocal treaty dengan Amerika, terdapat beberapa pengecualian. Boleh intip-intip di sini: Social Security Treaties and Agreements to Avoid Dual Tax. Selain itu, pemerintahan lokal dan tingkat propensi (state) memiliki program mereka sendiri-sendiri untuk pensiunan dan orang-orang cacat yang memiliki SSN, hal mana sangat menguntungkan masing-masing pihak, tentu saja sesuai tempat di mana ia berdomisili. Oleh karena itulah juga makanya ketika setiap tahun saya mengurus Income Tax, ada dua amplop yang diterima, satu dari tingkat state satunya lagi dari tingkat federal melalui Federal Social Security System, which is for me very interesting!


Keuntungan lainnya dengan adanya SSN ini adalah benefit-benefitnya, retirement plan, refund/income tax adalah beberapa diantaranya. Bahkan banyak warga negara yang sangat bergantung pada keuntungan adanya SSN. Orang-orang tua yang mau pensiun, anak-anak yang mau lanjut sekolah, orang-orang cacat pun dapat perlakuan khusus. Tingkat kriminal bisa ditekan. Bayangkan dengan system online yang ada, instansi mana pun yang mengecek nomor SS Anda akan langsung tahu latar belakang Anda, kerja di mana sebelumnya, track record selama hidup Anda, tindakan kriminal apa saja yang pernah dilakukan. Dan informasi-informasi lainnya. Bahkan pernah ada suatu cerita lucu di New Jersey tempat saya waktu itu, ada seorang pemuda yang merampok di sebuah liquor store (toko khusus minuman keras). Pemuda ini rupa-rupanya adalah peminum berat, ia tidak punya uang dan hanya ingin beberapa botol whiskey serta red wine. Pemuda ini lalu mengancam sang pemilik toko. Tapi pemilik toko ini tak kalah cerdik, ia mengatakan bahwa sesuai hukum yang berlaku, maka perlu dilihat dulu usia Anda sudah di atas 18 atau belum? Pemuda ini tidak membawa tanda pengenal apapun. Ia kemudian dengan tololnya memberikan nomor SS-nya. Memang minuman kerasnya ia peroleh, tapi 30 menit kemudian polisi sudah datang di apartement-nya. SSN adalah kunci informasi diri Anda.

Oleh karena keuntungan-keuntungan SSN itu juga maka di Amerika lazim terdengan kalimat seperti ini “I’m on disability”. Secara umum artinya mereka itu adalah pekerja cacat yang sementara mendapatkan keuntungan dari program Social Security Disability Benefits. Atau juga kalimat seperti ini “I’m on Social Security”, artinya orang tersebut kemungkinan besar adalah pensiunan yang sementara mendapatkan keuntungan dari program Social Security Retirement.

Keuntungan-keuntungan yang sama juga berlaku bagi yang bukan warga negara asli (immigrant), asal saja mereka memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan. Pertama, harus memiliki status ijin tinggal resmi, atau juga telah mendapat ijin (permission) dari U.S Citizenship and Immigration Services (USCIS) untuk bekerja secara resmi di Amerika. Kemudian, setelah permohonan SSN disetujui barulah kita boleh menikmati segala benefit yang diberikan untuk pemegang SSN.

Memang tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa kita tutup-tutupi bahwa para pendatang ini sering justru menyalahgunakan fasilitas dan kemudahan yang sudah diberikan. Pendatang dari negara-negara Amerika Latin (lazim dikenal dan disebut Spanish people), India dan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya turut memberi andil untuk itu. Contoh kasus yang saya saksikan adalah mereka me”mark-up” jumlah anak mereka dengan menggunakan SSN anak orang lain, jadi misalnya aslinya hanya memiliki 1 anak tapi supaya income tax akhir tahunnya banyak, mereka memasukkan data palsu sebagai memiliki 3 atau 4 anak dengan tujuan mendapat duit lebih banyak lagi. Mungkin dengan satu anak hanya mendapat 1000 USD, dengan 4 anak maka mereka mendapat lebih dari 4000 USD. Ini juga masih terjadi karena kelemahan pengelola system ini yang “terlalu percaya orang”. Mereka tidak pernah menyangka ada yang mau dan mampu melakukan penipuan semacam itu. Jadi agak longgar. Tapi akhir-akhir ini dengan banyaknya kasus pemalsuan seperti itu, peraturan dan perhitungannya sudah diperketat. Ada juga pasangan-pasangan yang baru menikah, tidak mau menipu seperti itu tapi mereka pakai cara resmi, setelah menikah bikin anak banyak-banyak. “Semakin banyak anak, semakin banyak income tax yang diperoleh” demikian kata teman saya yang waktu belum lama menikah.

Kembali ke pertanyaan awal, kalau begitu kenapa pemerintah Indonesia tidak menerapkan system ini? Apa memang kendalanya adalah teknologi? Rasa-rasanya tidak juga. Teknologi dan komunikasi kita di Indonesia saat ini sudah sebegitu majunya, di tunjang pakar-pakar komunikasi dan IT yang tidak bisa lagi dipandang remeh. Masalahnya mungkin adalah dengan diterapkan system ini, di satu sisi baik karena terjadi pemerataan, semakin banyak pendapatan semakin besar pajak yang harus dibayar (apa orang-orang kaya suka ini?), korupsi bisa “tertekan” (apa para pejabat suka ini?), orang-orang miskin, pensiuanan, dan orang cacat pun mendapat keuntungan-keuntungan (benefit). Tapi di sisi lain juga ada sebuah kelakar beberapa orang yang mengatakan bahwa bisa saja pasangan suami istri akan kembali berlomba-lomba bikin anak banyak-banyak, kalau perlu sembilan, sepuluh atau bentuk kesebelasan (sebelas anak). Kalau itu yang terjadi, bagaimana dengan program KB, dua anak cukup?

Ah, tapi apa pun itu, mungkin memang banyak kendala-kendala lain yang tidak memungkinkan Indonesia menerapkan penggunaan Social Security Number. Padahal banyak manfaat penggunaan atau penerapan SS# ini.Mudah-mudahan di masa mendatang, sistem ini bisa diberlakukan.

Michael Sendow.