Tampilkan postingan dengan label mediasosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mediasosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

Menulis di Kompasiana

Menulis di Kompasiana

Kompasina bagi saya adalah gabungan Media Sosial dan Media Jurnalisme Warga. Apa yang Anda dapatkan di media sosial ada dalam ruang lingkup Kompasiana. Begitu juga peran Kompasiana sebagai media jurnalisme warga (citizen journalism) sangat terlihat jelas. Sejalan dengan perjalanan waktu, kini Kompasiana sudah dihuni sejuta lebih orang (baca: penulis), angka yang fantastis dan luar biasa.

Sejak menjadi anggota Kompasiana setahun yang lalu (2011) saya sudah menulis sekian banyak tulisan, membaca sekian banyak tulisan, dan mempelajari sekian banyak tulisan. Ada begitu banyak penulis kaliber maupun pemula yang ‘menjajakan’ dan ‘menjual’ tulisan-tulisan mereka di sana. Tak kurang dari menteri, mantan menteri, mantan anggota dewan, ketua DPR, pengusaha, politisi, dosen bahkan sampai karyawan biasa, tukang bakso, dan tukang jual kartu telpon sudah menjadi anggota Kompasiana ini (dikenal sebagai kompasianer). Hampir semua dari semua profesi datang berkerumun di bawah satu atap ini.

Bisa jadi sudah puluhan ribu (bahkan mungkin ratusan ribu) tulisan ditelurkan lewat media ini. Kompasiana sudah menjadi semacam ‘trade mark’ khusus di dunia media jurnalis warga di Indonesia. Ranking onlinenya terus menanjak dan melonjak naik. Tante ‘Alexa’ pun sudah mengakuinya. Kini, siapa yang tidak bakalan mengakui bahwa Kompasiana sudah punya trademark tersendiri, dan suka ataupun tidak, telah dapat memengaruhi banyak hal yang terjadi di Indonesia. Sebut saja dalam dunia politik, ekonomi, edukasi, dan sosial budaya. Ia telah pula semakin menjadi rujukan dan tempat berpaling berbagai mahasiswa, dosen, dan peneliti yang hendak mencari data atau bahan rujukan. Ia menjadi semakin valid di mata akademisi Indonesia.

Lantas apa yang kemudian menjadikan Kompasiana begitu diidolakan, dicari, dan disukai. Banyak sekali keunggulan serta keunikan, dan juga kebermanfaatan menjadi anggota Kompasiana. Apa itu? Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan kunjungi ‘rumah sehat’ bernama Kompasiana itu di sini: Kompasiana. Saya berani jamin Anda akan ketagihan.

Sudah saatnya kita membudayakan kebiasaan baik yang membawa manfaat, salah satunya adalah menulis dan membaca. Ruang super luas dalam berekspresi di rumah sehat Kompasiana dapat dijadikan tempat untuk itu. Kita mendapat banyak pengetahuan bermanfaat melalui tulisan-tulisan bernas dan sarat makna yang ada di situ, dan kita dapat menorehkan segala ekspresi pun pengetahuan yang kita miliki di sana. Memberi dan menerima. Atau istilah kerennya take and give.

Anda pun dapat menjadi seorang penulis. Bergabung saja dengan Kompasiana dan mulailah menulis sesuai selera dan keinginan Anda. Selamat menulis dan jadilah penulis yang bertanggungjawab. Ingat satu hal, pena (tuts komputer) atau tulisan dapat lebih tajam dari belati. Ia dapat membunuh seseorang. Ia dapat menghidupkan dan membangun seseorang. Ia pula dapat membuat sebuah peregerakan besar. Dan dengan tulisan pula Anda dapat membagikan cinta. Untuk itu saya ucapkan, selamat bercinta lewat menulis!
---Michael Sendow, baca di sini My Kompasiana

Minggu, 15 Juli 2012

Kenapa Harus Jokowi-Ahok?


Kenapa Harus Jokowi-Ahok?

Indonesia butuh pembaharu. Jakarta butuh pembaharu. Lantas kenapa mesti Jokowi? Sekarang mari kita buka mata kita lebar-lebar dan berandai-andai, kalau kita sudah tahu bahwa pemimpin yang terdahulu tidak bisa apa-apa, dan tak mampu berbuat banyak bahkan ketika dana yang tersedia begitu banyaknya, mengapa kita memilih mempertahankan status quo?

Kita sudah terbiasa untuk ragu-ragu memberikan kesempatan kepada mereka yang baru. Tapi coba renungkan, bagaimana kita tahu keunggulan Jokowi tanpa pernah memberinya kesempatan? Track record dan sepak terjangnya sebelum pemilihan ini sudah menunjukkan siapa Jokowi sesungguhnya. Ia mampu mengangkat Solo dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya. PAD Solo meningkat, PKL dipindahkan tanpa melalui tindak kekerasan dan paksaan, orang-orang pinggiran dan pasar didekati dan dicari tahu apa-apa yang kiranya perlu dibenahi lagi. Pokoknya seorang Jokowi menunjukkan paradigma baru, dan membuka mata banyak orang seperti apa pemimpin itu seharusnya. How the true leadership should be!

Kenyataan setelah putaran I pemilukada DKI menunjukkan betapa sosok seseorang ditambah kekuatan masyarakat (people’s power) sangat ajaib cara kerjanya. Hasil quick count menunjukkan ‘kehebatan’ sosok Jokowi. Pergerakan masyarakat memilih juga terasa benar. Rakyat ternyata semakin cerdas. Mungkin saja ada begitu banyak money politics yang tetap merajalela sana-sini, tapi kecerdasan masyarakat tidak dapat dibeli, dan apalagi ditipu. Mereka sudah melihat siapa Jokowi itu. Uang tidak bisa membeli harapan dan kepercayaan mereka terhadap Jokowi. Mereka (masyarakat pemilih) merindukan pemimpin yang mampu membawa pembaharuan. Yang mempunyai program nyata, dan visi misi yang jelas. Yang mampu meminimalisasi kemacetan, meniadakan banjir besar, menata kota, dan meningkatkan perekonomian daerah. Apakah Jokowi mampu? Itu harapan masyarakat luas. Untuk menguji harapan-harapan tersebut, beri Jokowi kesempatan.

Jokowi-Ahok adalah representasi orang-orang muda yang berhasil, namun di tengah-tengah keberhasilan mereka tetap rendah hati, bersahaja, dan memahami orang-orang kecil. Bukti keberhasilan Jokowi memimpin Solo dan Ahok memimpin Bangka Belitung adalah juga bukti nyata ‘kehebatan’ mereka. Lalu kenapa kita masih ragu memberi mereka kesempatan menunjukkan kehebatan mereka di Jakarta ini? Saran saya, jangan ragu-ragu, beri mereka kesempatan dan nikmati hasilnya.

Black campaign, perusakan citra, dan tindakan negatif lainnya jelas akan terus memborbardir pasangan Jokowi-Ahok. Apapun itu, percayalah bahwa rakyat Indonesia khususnya rakyat Jakarta bukan orang-orang bodoh yang mudah dipengaruhi, dan diadu domba. Kecerdasan masyarakat pemilih sudah dibuktikan pada putaran pertama. Sangat diharapkan kecerdasan itu akan terus dipertahankan dan dipakai pada pemilihan putaran kedua. Jangan lupa peran media apapun (termasuk media sosial dan BBM) sangatlah besar. Semakin banyak kita menginfokan Jokowi-Ahok dan program-program mereka, akan semakin tersampaikan keunggulan-keunggulan pasangan ini.

Mari kita wujudkan Indonesia Baru lewat Jakarta Baru. Jakarta adalah ibukota Indonesia, dan dari sanalah perubahan dan pembaharuan itu harus bermula.


Michael Sendow

Kamis, 12 Juli 2012

Capailah dan Raihlah Tujuan Utama Pendidikan


Capailah dan Raihlah Tujuan Utama Pendidikan


“Jika Anda menunjukkan antusiasme pada semua yang ditanyakan anak Anda tentang ‘apa’ dan ‘bagaimana’. Dan apabila Anda menjawab dan menjelaskan dengan kesabaran dan penuh kebijaksanaan semua pertanyaan mereka, sudah barang tentu akan menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa suka belajar pada anak-anak Anda. Mereka akan bergiat untuk belajar dan terus belajar lagi” --- Michael Sendow.


Dari sejak jamannya nenek moyang kita tempo dulu sebenarnya proses belajar mengajar sudah berlangsung. Mereka belajar dari leluhur mereka cara berburu, bagaimana membuat perapian dan tungku pemanas air, dan banyak hal sederhana lainnya. Kemudian secara turun temurun proses tersebut diajarkan kembali ke anak-cucu mereka. Berlangsung secara terus menerus. Sekarang, di jaman kita ini belajar mengajar tidak lagi atau bukan hanya semata soal yang remeh temeh, tapi sudah begitu kompleks dan menjangkau sampai ke hal-hal yang luar-biasa tinggi. Teknologi dan komputerisasi telah secara signifikan “memaksa” setiap orang untuk belajar lebih giat lagi kalau tidak mau ketinggalan kereta. Sampai sejauh mana masyarakat mencapai dan menggapai hasil maksimal dari proses pembelajaran tersebut adalah cerita lain. Yang pasti, proses belajar-mengajar akan terus ada selama hayat kita masih dikandung badan. Istilah kerennya adalah long term education program, atau juga lifetime learning. Belajar itu mesti dilakukan seumur hidup kita. Tidak bisa tidak. Tidak ada tawar menawar. Itu adalah keniscayaan dan kemestian apabila kita ingin maju dan berhasil.

Saat ini masyarakat memang harus semakin diberi pencerahan apa arti sesungguhnya mendidik dan mengajar tersebut. Apa makna dan tujuan terdalam dari belajar maupun mengajar itu. Bahwa pendidikan dan pembelajaran itu lebih dari sekedar untuk mendapatkan rangking akademik atau supaya meraih juara dalam kelas. Pendidikan itu bahkan sudah dimulai jauh sebelum siswa itu bersekolah. Beberapa ahli mengatakan sejak bayi masih dalam kandungan pun proses ‘pendidikan’ sudah dimulai oleh sang ibu.

Lalu apa inti dari mendidik dan mengajar itu? Apa tujuan utama pendidikan? Saya mendifinisikannya sebagai “memanusiakan manusia”. Itu adalah tujuan utama pendidikan. Sebab di dalam kalimat pendek itu tertanam nilai-nilai luhur pendidikan yang amat dalam. Ketika kita mengimani dan mengamini bahwa tujuan kita mengajar dan mendidik seseorang adalah untuk supaya ia menjadi lebih manusiawi, lebih cerdas, lebih toleran, lebih berwawasan maka di situlah makna terdalam memanusiakan manusia lain kita capai. Siswa yang pintar belum tentu berperilaku luhur. Siswa yang hebat belum tentu toleran. Siswa yang terkenal belum tentu memiliki empathi terhadap orang lain. Jadi sederhananya begini, mengajarkan anak supaya pintar adalah baik, tetapi itu belum sampai pada titik memanusiakan manusia lain. Ingat benar, otak dan hati harus seimbang. Iman dan ilmu harus bersamaan. Berdoa dan bekerja harus seiring. Sharing dan caring harus serempak. Menjadikan mereka manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. Sekaligus mempersiapkan mereka menjadi guru kehidupan untuk mengajarkan hal yang sama pada generasi sesudah mereka.

Saya melihat dan mengamati. Ada banyak kurikulum di sekolah yang mubazir dalam penerapan dan penggunaan. Artinya, apa yang diajarkan tidak terlalu relevan terhadap siswa terdidik ketika lulus dan hendak bekerja nantinya. Ada yang tidak sesuai, ada pula yang masih sangat kurang, atau bahkan belum dikurikulumkan. Nah, oleh karena harapan setiap guru, orang tua murid, pemerhati dunia pendidikan adalah supaya pendidikan disekolah boleh membawa perubahan bagi para siswa dari segi pengetahuan(knowledge), keterampilan (skill), sikap mental (attitude), dan spiritualitas (spirituality) menuju kearah kebaikan dan kemajuan, maka cara-cara yang benar harus ditempuh dan dijalankan. Salah satu cara adalah dengan penambahan, pengurangan, dan penyesuaian kurikulum.

Setelah semuanya dijalankan, apakah sudah selesai sampai di situ? Tunggu dulu. Semuanya belum selesai. Itu baru awal. Pembelajaran yang sesungguhnya baru dimulai. Ketika bangku sekolah sudah selesai, pembelajaran nyata di luar sekolah pun sudah menanti. Itu ujian dan tantangan berikutnya. Pembelajaran nyata yang justru mungkin saja akan jauh lebih berpengaruh dari apa yang ia dapati di bangku sekolah. Tugas orang tua, keluarga, dan lingkunganlah yang selanjutnya mengambil peran sebagai pendidik. Apa yang hendak dididik? Ya itu tadi, memberikan kepada sang anak atau sang siswa pelajaran paling mulia sebagai seorang yang berpendidikan. Mereka yang mungkin saja adalah tamatan sekolah hebat dan mahal. Atau juga mereka yang lulus dengan predikat terbaik. Pelajaran mulia itu adalah mengajarkan mereka untuk mampu memanusiakan manusia lain dengan segala kelebihan serta kepintaran yang mereka punyai. Dengan semua berkat yang sudah mereka terima.

Bagaimana mereka mampu berbagi kecerdasan dan kepintaran dengan jutaan anak putus sekolah di luar sana. Bagaimana ketrampilan yang mereka miliki bisa mengangkat derajat saudara-saudara mereka yang tidak berkesempatan mengenyam bangku pendidikan formal oleh karena kemiskinan dan keserbakekurangan yang ada. Atau juga bagaimana mereka berbagi berkat, dan kelebihan yang mereka punyai kepada orang lain yang membutuhkan tapi tak sanggup memiliki dan menikmatinya. Potensi-potensi kepekaan, kebisaan, serta kemampuan berbagi inilah yang akan terus diwariskan dan diajarkan. Sehingga suatu ketika nanti, generasi penerus kita adalah orang-orang yang bukan hanya sukses secara ilmu pengetahuan, tapi dalam segala hal. Tujuan mulia dari pendidikan pun akan semakin menampak dan nyata dirasakan.

Apa-apa yang harus menjadi tujuan tetap kita tempatkan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Begitu pula sebaliknya. Kalau kita menjadikan alat sebagai tujuan atau tujuan dijadikan alat, maka kita tidak akan pernah mendapatkan ataupun sampai pada tujuan utama yang hendak kita capai. Dengan mengetahui tujuan utama pendidikan mendorong kita lebih peka serta membuka diri untuk lebih maju lagi. Lulus sekolah, menjadi lulusan terbaik, dan atau mendapatkan beasiswa bukanlah tujuan utama. Semuanya itu hanyalah alat dan sarana semata. Bukan akhir dari segalanya. Bukan sesuatu yang mutlak. Jangan pernah memutlakkan yang nisbi dan menisbikan yang mutlak.

Seandainya pendidikan kita memang mengajarkan apa yang benar. Sistem pendidikan kita benar-benar sesuai apa yang paling dibutuhkan negeri ini. Dan kalau saja Pengajaran dan pembelajaran itu setidak-tidaknya dapat menjangkau sampai ke seluruh sudut negeri ini, saya percaya kita akan mampu menciptakan generasi emas, Golden Generation.  Sebuah generasi di mana setiap insan terdidik mampu mengaplikasikan semangat berbagi dengan landasan memanusiakan manusia lain. Semangat dan landasan yang pada situasi tertentu akan menegur serta membatasi mereka ketika kelak menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini. Menjaga mereka untuk tidak menjadi pemimpin yang lalim, bebal, korup, dan tidak manusiawi. Membatasi mereka supaya tidak menjelma menjadi pemimpin arogan yang serakah dan selalu mementingkan diri sendiri. Bukankah sudah banyak contoh pemimpin yang bergelar akademik sangat tinggi, pintarnya minta ampun, tapi bobrok dalam memimpin. Kurang sanggup menjaga amanah. Meremehkan dan melecehkan rakyat yang mereka pimpin, serta tak sedikit yang melacurkan tugas serta jabatan yang diemban hanya karena harta dan tahta.

Akhirnya, saya ingin mengajak pembaca mengintip sejenak UU RI Nomor 20 Tahun 2003 yang mengatakan demikian, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa.” Apakah slogan itu sudah mewujud atau hanya sebatas pemanis bibir semata? Andalah penilainya. Selamat belajar dan teruslah belajar!

Michael Sendow

Senin, 19 Desember 2011

Media Sosial Sebagai Nabi Baru

Saat ini perkembangan media sosial (Social Media) semakin pesat dan bertumbuh kembang laiknya tanaman-tanaman bibit unggul yang bertumbuh sangat cepat, dan sangat pasti di tanah yang subur dan selalu dipupuki. Pesatnya media sosial tentu akan membawa dampak menguntungkan sekaligus merugikan, tergantung siapa dan dari sudut pandang mana ia melihatnya. Cotoh kecil saja, media sosial akan sangat mungkin merugikan dan mengambil alih peran promosi lewat media cetak, melangkahi fungsi salesman atau salesgirl, walau tentu saja ini belum sepenuhnya benar dan diakui banyak pihak. Belum lagi dampaf negatif bagi para pengguna belia, yang banyak memanfaatkan media sosial secara serampangan dan asal-salan. Untuk banyak tujuan tidak berfaedah.

Tapi perkembangan pesat media sosial juga pada sisi lain akan sangat menguntungkan para pegiat di bidang ini, termasuk mereka yang menjadikan sarana ini sebagai “alat untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin”, katakanlah para online marketer, baik secara perusahan maupun individually. Juga yang kerjaan sehari-hari adalah penggerak media sosial. Semakin besar lahan ini, semakin menguntungkan mereka.

Nah, lalu apakah peran ini bisa disikapi secara bijaksana dan serius oleh para pelakunya? Itu juga tentu saja akan menjadi pertanyaan setiap kita. Terkadang kepesatan pertumbuhan media sosial tidak diiringi kesiapan mental dan wawasan para pelakunya, oleh karena itu jangan heran kalau banyak juga menuai hal-hal negatif di balik euphoria social media ini. Secara signifikan ia kadang terlalu meroket sampai-sampai menawarkan sesuatu yang utopis, terlalu tinggi untuk digapai dan dipraktikkan. Tapi juga ada kalanya ia begitu membumi, sampai-sampai tukang bakso dan tukang ojek pun merasakan manfaatnya dengan sangat.


Kemudian, dalam perspektif untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik, maka media sosial seharusnya diciptakan sebagai sebuah ruang publik yang bebas dari segala bentuk tekanan. Apa artinya? Sederhananya adalah, ketika media sosial sudah diberangus kebebasannya, dan apalagi ketika ia menjadi alat kekuasaan, maka itu sudah barang tentu akan menistai dan menciderai kemurnian media sosial dalam membangun civil society (bukankah itu juga yang mesti menjadi salah satu tujuan sebuah media sosial?) Bayangkan saja, betapa gilanya, dan apa yang akan terjadi kalau media sosial menjadi corong penguasa?
Saat-saat seperti ini, realitasnya sudah berbicara dengan sangat telanjang, bahwasanya media sosial berdiri cukup strategis dalam ‘mengambil alih’ posisi dan peran beberapa pihak, sebut saja diantaranya kaum intelektual, agamawan atau rohaniwan, marketing personnel, tokoh sosial, pendidik, dan masih banyak lagi, yang sudah secara turun temurun menjadi panutan dinamika, dan sumber informasi, serta menjadi acuan pendapat serta sikap masyarakat. Secara perlahan-lahan terlihat bahwa media sosial mampu meramu dan menjamu kebutuhan masyarakat tersebut. Ia menjadi lebih piawai dan mumpuni serta lebih diterima daripada yang lain. Setidak-tidaknya bagi mereka yang begitu menggilai media sosial. Tidak salah memang, tapi perlu ada tanda awas dan tanda hati-hati, jangan sampai kebablasan.

Ia (media sosial) menjadi sarana dan alat yang harus ada, oleh sebagian orang itu adalah mutlak. Ia diperlukan oleh dan untuk banyak hal. Ia begitu digandrungi dan cintai untuk maksud dan tujuan apapun juga. Bahkan seakan-akan ia telah menjelma menjadi “nabi baru” yang cukup mempengaruhi sebagian besar kehidupan masyarakat. Tanpa melihat batasan umur dan strata sosial. Dari yang muda belia sampai yang tua bangkotan. Dari yang berpendidikan tinggi, maupun yang tamatan sekolah menengah. Dari kalangan pejabat, artis sampai yang tukang bakso dan pengojek sekalipun. Ia sudah merambat bagai rumut liar dan menggurita ke semua lapisan masyarakat. Bagi saya, ini adalah keuntungan sekaligus tantangan buat kita semua. Kita mesti memaknai kemunculan dan kemasyuran media sosial ini dengan sebijak mungkin. Ia bisa menjadi gula aren yang manis dan memberi semangat serta keuntungan, tapi ia juga dapat menjadi racun yang pahit dan mematikan. Jangan sampai kita kemudian memberhalakan nabi baru tersebut.

Saya sebenarnya sangat menyukai untuk memanfaatkan media sosial sebagai lahan bisnis yang menguntungkan. Sebab ini adalah pasar yang luar biasa. Ada bahkan yang bilang bahwa “Social Media is the hottest way businesses to reaching out potential customers.” Saya setuju itu. Coba saja, memanfaatkan media sosial tersebut dengan langkah yang tepat dan benar, dengan perhitungan yang akurat dan jujur, banyak data membuktikan betapa ia akan mendatangkan traffic dan akhirnya menguntungkan bisnis yang sementara dijalankan. Tentu ditandai dengan penjualan yang meningkat dan lain sebagainya.

Bahkan tidak sedikit perusahaan yang menjalankan promosi dan kampanyenya lewat media sosial. Atau dengan bahasa yang sedikit lebih keren, mereka menyebutnya sebagai A Social Media Marketing Campaign. Kalau Anda aktif di beberapa media sosial besar, seperti Facebook, Twitter, Linkedln, Multiply, dan masih banyak lagi, maka dengan mudah akan ditemui perusahan-perusahan maupun individu yang berdagang, berbisnis, atau berpromosi di sana. Untuk ukuran Indonesia mungkin seperti Kompasiana (setengah media sosial?) dan Kaskus. Bahkan ada yang terang-terangan  memanfaatkan Youtube untuk berpromosi (promosi barang, promosi ide, juga promosi diri).

Lalu kenapa masih saja ada beberapa yang katanya kurang “beruntung” di media sosial?
Tentu ini bukan perkara gampang menjawabnya. Apa sebab? Perlu alat analisa lengkap dan komprehensif untuk mengukur dan menilainya. Tapi setidak-tidaknya, saya tawarkan untuk melihat hal sederhana berikut ini:

- Cara berpromosi Anda, atau isi promosi terlalu berlebihan dan atau terlalu sensational.
Orang lain memandangnya sebagai sesuatu yang kurang realistis. Ini tentu saja ada kaitannya juga dengan update status. Ketika kita melakukan update status yang “terlalu promosi diri” mungkin saja mengakibatkan yang tadinya mau mem-follow kita jadi pikir-pikir dulu. Padahal follower blog, atau pada akun kita adalah “pasar potential” pertama yang harus (segera) dibidik. Mata rantainya dimulai dari sini.

- Anda tidak menginjinkan orang lain membagikan tautan atau pendapat mereka.
Orang lain akan follow kita apabila kita juga ‘terbuka’ untuk mereka. Dalam arti kita mengijinkan mereka untuk share sesuatu di lapak/rumah kita. Banyak yang menutup diri dengan tidak mau menerima link dari pihak lain. Ini sebetulnya adalah niche (relung) strategi kita merebut pasar jika hendak menawarkan barang atau jasa kita online. Harusnya dimanfaatkan, bukan dihindari.

- Adanya Ketidakjelasan.
Seberapa sering Anda mem-follow atau nge-add seseorang di Twitter atau Facebook yang tidak memiliki foto diri? Saya jamin Anda tidak akan mau melakukannya. Social media adalah seperti itu juga. That’s it. Orang berkehendak untuk connect dengan orang lain, bukannya dengan sebuah logo, atau kata-kata tak jelas, atau gambar binatang, atau gambar batu cadas. Tapi ketika kita membuat sesuatu yang jelas, foto yang dapat diidentifikasi dengan jelas, tentu akan lebih diperhatikan orang lain. Ada kejelasan dan terlihat lebih bertanggungjawab nantinya. Remember: people want to connect with other people.

- Kurang berinteraksi.
Kalau kita ingin tidak hanya melebarkan sayap, tapi juga mempertahankannya, maka berinteraksilah. Yakinkan yang lain bahwa kita juga adalah mahluk sosial yang berinteraksi. Cobalah jangan hanya memposting atau share sesuatu, tapi lakukan juga hal-hal seperti membalas komentar, re-tweet bagi yang di Twitter, berkomentar di dinding teman-teman di facebook, atau menjawab pertanyaan di LinkedLIn Answer, dan masih banyak lagi. Itu adalah bagian dari interaksi.

- Mungkin anda keliru memilih media sosial.
Rasa-rasanya tidak perlulah untuk menjadi anggota di semua media sosial yang ada. Ada FB, Flickr, SlideShare, Twitter, Digg, StumbleUpon, LinkedLIn, Delicious dan masih banyak lagi. Pilih saja salah satu atau dua dan fokus di sana. Pilihlah yang sesuai dengan karakteristik kita atau bisnis yang kita miliki. Jika kita bergelut di bidang jual beli pakaian mungkin Facebook, Youtube, dan Kaskus yang kita pilih. Untuk jual beli tulisan, pilihlah Komasiana misalnya. Ini hanya sekedar contoh.

- Terlalu berharap hasil secepat kilat.
Tidak beda jauh dengan SEO, promosi melalui media sosial juga butuh waktu. Bukan hanya dengan Sim Sala Bim, maka jadilah. Kum faya kum, jadilah!  Jadilah maka jadilah demikian. Bukan begitu cara kerjanya. Ini semua perlu proses. Butuh waktu untuk menggapai hasil yang luar biasa dan maksimal. Kegigihan dan content yang menakjubkan adalah kuncinya. Jika Anda membangunnya dengan benar, percayalah itu tidak akan kembali dengan sia-sia. They will come. Just give it more time. Serempak, sambil menunggu, tetap didorong dengan berbagai content baru nan segar, tetap berinteraksi. Jangan tunjukkan kegalauan ketika hasil maksimal belum dicapai.

Akhirnya, media sosial adalah alat dan sarana baru untuk ekspresi diri maupun ekspresi bisnis. Peluang itu sudah di depan mata. Sekarang tergantung saya dan Anda, you will take it or leave it. Tapi saya pribadi tidak akan take it for granted. Harus mempertimbangkan banyak hal dan kemungkinan. Sebab, “nabi baru” itu kadang masih misterius. Sukar ditebak. Tak mudah dibedah.