Sabtu, 26 Januari 2008

Menjadi Besar....?

Saya tertarik dan terinspirasi dengan khotbah Alm. Dr.Eka Darmaputera di gereja GKI semasa beliau hidup, saya mendengar, menyimak dan berusaha memahami khotbah beliau dengan kacamata iman saya dengan melihat apa yang terjadi di negeri yang saya sungguh cintai ini, di propinsi dari mana saya datang, di kampung yang pernah membesarkan saya. Kebetulan saya datang dari kampung kecil, papa dari Sonder dan mama asal Lopana.
Dr.Eka memulai khotbahnya dengan " E.F. Schumacher, ekonom Inggris mengatakan Smal is beautiful, kecil itu indah ". Tetapi bagaimana kenyataannya ? Kecil itu bertentangan dengan kecenderungan naluriah kita. Kecenderungan naluriah kita adalah ingin besar. Ingin menjadi besar. Ingin mendapat yang besar. Ingin diperlakukan sebagai orang besar. Begitulah beliau bertutur. Intinya Dr.Eka ingin menegaskan, bahwa semua kita tentunya punya keinginan untuk menjadi besar (dalam berbagai bentuk). Tapi seluruh "kebesaran" kita akan menjadi keliru, salah, membuat kita berdosa apabila itu mengorbankan orang lain, menyengsarakan sesama kita, memiskinkan dan mengecilkan orang-orang disekitar kita.

Saya teringat masa kecil dulu, saya dan teman-teman selalu berlomba untuk menjadi yang pertama, yang tercepat, yang terbesar. Entahkah itu dalam permainan seperti; main kanikir (kelereng, MS,-), main falinggir (layangan, MS,-), main lempar-lempar gambar, main kuti-kuti tiang ( permainan dari semacam karet tangan, MS,-) Maupun dalam meraih juara kelas, berusaha untuk menang dan selalu juara kelas. Semuanya itu begitu lumrah, begitu manusiawi.

Kembali kita diperhadapkan kepada pertanyaan : Kalau ia wajar dan alamiah, mengapa terlalu sering dampak dan akibatnya begitu buruk ? Berapa banyak darah yang tertumpah dan berapa banyak hati yang terluka oleh karena orang ingin menjadi besar dengan cara mengecilkan, merendahkan dan menista orang lain. Dengan cara merampas, mengambil mengkorupsi milik orang lain ? Jawabannya adalah karena begitu banyak orang yang selalu "menjadikan alat sebagai tujuan dan tujuan sebagai alat". Keserakahan itu muncul tatkala, mata dan mata hati kita hanya kita tujukan bagi diri kita sendiri, kepentingan kita, kesenangan kita sendiri. Kata "cukup" tidak lagi menjadi bagian dalam usaha-usaha kita memenuhi kebutuhan hidup, meraih pangkat, karir dan jabatan. Konglomerasi di Indonesia sudah semakin akut akibat penyakit keserakahan. Mereka telah menancapkan kaki-kaki yang panjang dan ujungnya sadar atau tidak sadar menendang keluar, mengeleminasi orang-orang kecil, pedagang-pedagang kecil. Kasus bupati korup tidak asing lagi di telinga kita, pemilihan walikota/bupati bermasalah (money politics), pemilihan rektor bermasalah. Sudah barang tentu semuanya itu banyak merugikan pihak-pihak "diluar pagar kekuasaan". Kita-kita yang kecil ini. Berusaha menjadi besar itu lumrah, wajar, alamiah asal ia diperoleh dengan jalan yang benar. Uang cuma alat, jangan jadikan itu tujuan, kalau tidak, kita akan diperhamba olehnya. Kekuasaan itu cuma alat. Tahta dan jabatan itu cuma alat. Kesejahteraan, menciptakan keadilan dan kebenaran itulah salah satu tujuan terpenting. Jadikan alat tetap sebagai alat dan tujuan sebagai tujuan.

Siapa bisa menyangkal bahwa awan hitam sudah terlalu lama memayungi kehidupan ekonomi kita ? Ekonomi, sesuai dengan namanya, berfungsi untuk mengupayakan kesejahteraan material bersama. Kata "ekonomi" berasal dari kata oikos (rumah) dan nomos (hukum). Ia mengatur baik kegiatan produksi maupun distribusi bagi kebutuhan serta kesejahteraan seluruh "rumah". Sebab ekonomi (ilmu dan pelaksanaanya) mengatur mekanisme agar ada keseimbangan.

Tapi begitukah kenyataannya ? 'Manusia-manusia ekonomi' - karena tingkah laku mereka - digambarkan bagai "mahluk penghisap darah" yang rakus dan akan selalu bertahan hidup dari kematian orang lain. Ekonomi tidak befungsi lagi untuk saling menghidupi, tetapi justru menjadi arena untuk saling membantai. Ada begitu banyak pakar ekonomi di negeri kita, tak terhitung jumlahnya, tapi toh 'awan hitam' itu masih ada di atas sana. Korupsi masih merajalela, baik dalam bentuk yang kasar mapun yang sehalus sutera. Orang-orang sekaliber Kwik Kian Gie, Prof. Soemitro (alm), Rizal Ramli ataupun sekelas Sri Mulyani, Eka Pangestu, Boediono "tidak mampu" berbuat banyak andaikata para pelaku ekonomi, para konglomerat, para penguasa negeri tetap pada pola lama mereka. Memakan apa yang bisa dimakan. Korupsi apa saja yang bisa dikorupsi selagi hayat masih di kandung badan ! Teori-teori yang ada dan yang diciptakan berusaha menjembatani kesenjangan dan kepincangan yang ada, akan tetapi para pelaku adalah kuncinya.

usaha-usaha kecil semacam ini perlu mendapat perhatian pemerintah




William Adam Browns, seorang pengamat sosial mengatakan bahwa manusia modern " senang melempar kesalahan pada orang lain " : Kaum imperalis yang jahat, pengusaha konglomerat multinasional yang tamak, lapisan birokrasi yang korup. Bukankah ini yang paling sering kita lihat di negeri kita ? Tapi ' sang pelaku ' selalu menuduh dan melempar batu kepada ' si kecil ', yang minoritas, si miskinlah penyebab Indonesia makin melarat. Aneh bin ajaib memang tingkah para 'tikus-tikus' negara tersebut.

Untuk merubah paradigma, untuk merubah kesalahan-kesalahan masa lalu bangsa kita butuh kesadaran, dignity, iman. Itu menuntut perubahan. Bukan cuma pengetahuan. It's not discussion, it's decision. Ia eksistensial. Tidak cuma intelektual atau emosional.

* Michael, Amerika Serikat, Akhir Januari 2008


Tidak ada komentar:

Posting Komentar