Minggu, 27 Januari 2008

Kehilangan Orientasi....?

Hari ini saya sedih. Sedih sekaligus gelisah melihat Soeharto meninggal. Tapi kegelisahan dan kesedihan saya yang lebih dalam lagi adalah dikarenakan, masih begitu banyak orang yang berusaha mencari "pembenaran" atas semua kesalahan masa lalu Soeharto, yang teramat brutal. Yang teramat menyesakkan. Berlindung di bawah bayang-bayang sakit penyakit dan kematian. Akankah kita menutup mata terhadap kematian begitu banyak orang, fakir miskin, para idealis kaum muda dan masih banyak lagi adalah saksi bisu sejarah yang terbungkam di tangan Soeharto, hanya oleh karena kepergian beliau ??

*) Penjual kacang rebus, kehidupan mereka semakin tertekan....

Kita tidak boleh kehilangan orientasi. Pemeriksaan terhadap kejahatan korupsi, kejahatan kemanusiaan dan kejahatan hukum lainnya harus tetap dijalankan. Sebab negeri ini akan lebih terpuruk kalau kita selalu mau ambil jalan pintas. Cuci tangan ala Pilatus. Keadilan dan kebenaran tetap menjadi prioritas utama, tidak terkecuali terhadap anak-anak dan kroni Soeharto. Kalau pencuri ayam saja di denda, di dera bahkan ujung-ujungnya masuk kerangkeng (sel). Apalagi sekelas....saya sebut dengan segala hormat, Tutut, Tomy, Bambang, dan 'gerombolan'nya....



*)Anak-anak kurang mampu, makanpun serasa tak cukup ber-empat

Dalam sebuah studi tentang penghitungan kemiskinan dengan pendekatan moneter atau pendekatan pengeluaran konsumsi untuk kebutuhan dasar, maka terlihat ada tiga kategori rumah tangga miskin. Yaitu kategori ”sangat miskin” dengan kemampuan minimum mengonsumsi pangan sama atau kurang dari 1.900 kalori/orang/hari dan pengeluaran nonmakanan (PNM) senilai Rp 120.000,00/orang/bulan; kategori ”miskin” dengan konsumsi pangan 1.900-2.100 kalori/orang/hari dan PNM setara Rp 150.000,00/orang/bulan; kategori ”mendekati miskin” dengan konsumsi pangan 2.100 - 2.300 kalori/orang/hari dan PNM setara Rp 175.000,00/orang/bulan. Dapat kita bayangkan bahwa di negeri kita bernama Indonesia ini masih banyak yang berpendapatan RP.120.000,- (Seratus Dua Puluh Ribu) perbulan...? Sungguh sangat miris, sementara 'jendela' yang lain kita melihat saudagar-saudagar kaya, produk rejim-nya Soeharto bergelimang harta dan kekayaan. Meraup kemewahan demi kemewahan. Banyak yang 'menjarah' hasil jerih payah orang-orang kecil tersebut. Merampok subsidi, menilep sumbangan...dan aagkh, entah apa lagi.
*) Si ibu penjual seperti pasrah dengan keadaan.....
Hidup ini akan menjadi semakin sulit kalau kita tidak memiliki orientasi . Dalam kasus Soeharto kita mesti mengambil ketegasan. Seperti ada kalimat yang berbunyi demikian " Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat ".
Mencari keadilan dan kebenaran demi kesejahteraan bersama adalah "titik orientasi" kita.
Menurut Soren Kierkegaard, keruwetan, kekacauan dalam berpikir sering muncul karena hati kita kehilangan titik orientasi.
Ada teman memberi nasihat, kalau kamu hilang jalan di Pusat Kota Manado, jangan panik, carilah gedung tinggi seperti Hotel Novotel, naik lantai paling atas, dan kemudian dari situ ke tujuan anda. Bagi teman saya, lantai atap Hotel Novotel itu menjadi "titik orientasi" dia.
-Mich-
*) Foto-foto by: Apit/Ansel Adam,-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar