Jumat, 28 November 2008

Faith


Faith - Astrid Savitri **

Someone asked Gandhi ‘If there is only one God, then why there isn’t only one religion?”. Gandhi answered ‘A tree has million leaves, but they are all rooted in one tree”. Probably Gandhi’s argument is not exactly right, but I know that whoever lived in India and grown up within its history and experience will understand how such a dialog could take place. For hundred years India has witnessed the beauty of mankind spiritual journey. At the same time India has also seen how million people got a license to kill other people on behalf of their religion.
What did God design in all of this? What could have been His will? The answers are like the numbers of stars in the sky, but one thing for sure; God is not cursing us by giving us various religions and faiths, yet it is a utopia to say that the world is a happy place because of them.
Few years ago a Methodist minister, Wesley Arirajah - author of ‘The Bible and People of Other Faiths’ – taught religion subject at a university in Sri Lanka. One day when his class discussed Hindu ceremonies topics, a student said that he knows nothing about the ceremonies because he does not worships any Hindu’s god. The teacher asked ‘Do you think that Hindu god is different to Christian god? In fact, how many gods are there in the world? Is there a room for one Christian god, one Hindu god and one Islamic god?’ To Arirajah the answer is directing to a pure monotheism; there is only one god. In his book he wrote that the Bible starts with Genesis – the creation of cosmos, not the creation of Christian, Church or land of Israel. Therefore God should be a god of all people and faithful, not a tribal God. Christian should allow God to be God, and should not own God as its own private property because people don’t own God; it is God who owns us and the whole of creation.

Arirajah book is inspiring indeed. And there was a rumor that in early 90s the Protestant group Eka Dharma Putra wanted to translate the book but Christian church group in Jakarta disagreed. I can imagine how difficult it would be for liberal religious thinking to develop Indonesia from any religious group. Many Islamic faithful are suspicious of Nurcolish Majid’s ideas and uneasy with Abdurrahman Wahid’s opinions, as well as many Catholics get tense reading the late YB Mangunwijaya analysis’ or Brouwer’s naughty columns.
As opposed to anger and suspicion, Gandhi is not heard forever. The reaction of diversirty of religions is not always the same reaction of widen spiritual arena. Nevertheless in spiritual essence, faith is fervent and daring, not based on anxiety of losing an absolute truth. But what to say, today we live with too much anxiety. Even Gandhi was shot dead by a Hindu fanatic who was worried that Gandhi is showing too much sympathy towards the Muslims. In his last moments, as the blood flowed from his chest, Mahatma Gandhi could only whisper ‘O, Ram’ – Oh, God - the God of people who feel loss when brotherhood is killed by hate.

http://www.astridsavitri.blogspot.com/

Sabtu, 13 September 2008

Tempat paling laris untuk bunuh diri...?


Di tahun 2004, seorang pembuat film bernama Eric Steel meluangkan waktu hampir sepanjang tahun itu untuk membuat film San Fransisco Golden Gate Bridge. Yang menarik perhatian dia dan menjadi tujuan utamanya adalah untuk "menangkap" gambar-gambar dari orang orang yang bunuh diri.
Apa yang di dapat Steel, seperti sudah bisa diduga, adalah sangat sukses : Jembatan tersebut telah menjadi tempat untuk sekurang-kurangnya 1300 orang dalam mengakhiri jiwa mereka sendiri. Tempat bunuh diri terlaris dalam sejarah Amerika, dan sangat mungkin dalam sejarah dunia, sejak jembatan tersebut dibuka pada tahun 1937. Biaya pembangunan jembatan tersebut tidak kurang dari 35 juta USD.
(rata-rata satu orang per dua minggu). Angka sesungguhnya mungkin malah lebih tinggi dari itu-kalau dihitung mereka yang jasadnya tidak ditemukan- kebanyakan mereka yang bunuh diri pada malam hari.

Steel membuat film documentary berjudul "The Bridge" ia juga menyertakan interview terhadap beberapa teman dan keluarga dari beberapa yang bunuh diri dan tertangkap kameranya. Film yang dibuat Steel juga banyak menggali tentang apa yang menyebabkan jembatan tersebut menjadi tempat terpopuler dan menjadi tempat faforit untuk bunuh diri.
Ada sesuatu yang tidak tersentuh film ini, yaitu yang menjadi perdebatan panjang atas pertanyaan ini : Apa kira-kira -jika ada- yang seharusnya di buat dengan maksud mempersulit orang untuk lompat dari atas jembatan itu....?
Tempat pejalan kaki di sepanjang jembatan itu tetap menunjukan sesuatu yang oroginal. Tidak ada perubahan, pagar pengaman yang cuma beberapa meter tersebut membuat orang dengan mudahnya panjat dan terjun bebas kebawah. Jarak dari jembatan tersebut ke dasarnya minta ampun tingginya...

Dalam documentary Steel, dapat dilihat betapa susahnya bagi mereka yang "bergulat" dengan keputusan mereka untuk bunuh diri. Terlihat orang-orang yang berjalan bolak-balik bermenit-menit bahkan jam sebelum akhirnya menemukan keberanian diri untuk melompat dan mengakhiri perjuangan hidup di dunia nyata ini.
Sekitar 1 dari 50 yang lompat tersebut selamat. Steel berhasil mewawancarai satu dari beberapa yang selamat tersebut. Seorang anak muda yang sangat depresi bilang keputusannya untuk bunuh diri adalah dikarenakan stress dan depresi yang amat sangat. Anak muda itu melanjutkan sedetik setelah ia lompat dari jembatan tersebut, secepat itu pulalah ia menyesali tindakannya bunuh diri (Tad Friend, ditahun 2003 menulis artikel di New Yorker, menulis kisah dari beberapa mereka yang selamat dari percobaan bunuh diri itu yang kurang lebih sama dengan sensasi perasaan yang dirasakan anak muda tersebut). Penyesalan memang selalu terjadi dibelakang...?

Ada beberapa penelitian tentang percobaan bunuh diri yang menyatakan bahwa " suicide attempts are often impulsive acts, anda people who can be, as it were, talked down from the ledge rarely go on to kill themselves later " Ada juga sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1978 terhadap mereka yang berhasil menggagalkan niat mereka untuk bunuh diri dari atas jembatan, dan hasilnya, bahwa beberapa tahun kemudian hampir semua mereka tetap hidup atau meninggal karena penyebab yang wajar, misalnya sakit, dll.

Apa yang menyebabkan the Golden Gate Bridge menjadi tempat bunuh diri yang sangat berbahaya adalah dikarenakan secara nyata tempat tersebut sama sekali tidak mengundang rasa takut bagi mereka yang akan bunuh diri. Jembatan tersebut juga menyediakan "sesuatu" yang menurut seorang penulis buku dikatakan sebagai "fatal grandeur" yang menarik minat bagi mereka yang akan bunuh diri secara emosional, mereka yang ingin bunuh diri secara "nyaman". Sehingga banyak yang mengistilahkannya sebagai "beautiful death" atau bahkan "romantic death".

Tapi rupa-rupanya issue-issue bunuh diri dari jembatan tersebut saat ini telah menarik perhatian beberapa departement. Issue ini telah masuk dalam list new urgency, dimana beberapa waktu yang lalu aparat setempat telah menyiapkan beberapa rencana kedepan untuk menjadikan jembatan tersebut less suicide-friendly .
Jembatan tersebut dibangun dengan design yang memungkin ratusan orang bunuh diri, yang seharusnya tidak terjadi apabila ada perasaan takut dan ngeri bagi mereka yang sekiranya coba-coba bunuh diri ditempat itu.

Adakah cara lain untuk mengurangi percobaan bunuh diri, bagi mereka yang prihatin akan hal ini...?
Artikel yang ditulis oleh Tad Friend ketika membuat sebuah tulisan tentang fenomena bunuh diri dari atas jembatan Golden Gate tersebut diakhiri dengan cerita ini :

Ada seorang dokter yang selama bertahun-tahun gagal membuat "penghalang" bagi mereka yang akan bunuh diri dari jembatan tersebut suatu ketika mengunjungi apartement sesorang yang baru saja lompat bunuh diri dari atas jembatan Golden Gate itu. Dokter itu menemukan catatan kecil, yang berbunyi demikian : " Saya akan berjalan ke jembatan itu. Jika ada satu saja orang yang tersenyum padaku dalam perjalanan, saya tidak akan lompat dari atas jembatan itu ".

Kamis, 31 Juli 2008

Traveling to New York City.........



New York City (officially The City of New York) is the largest city in the United States, with its metropolitan area ranking among the largest urban areas in the world. Founded as a commercial trading post by the Dutch in 1625, it served as the capital of the United States from 1785 until 1790, and has been the nation's largest city since 1790. Located on one of the world's finest natural harbors, New York is one of the world's major centers of commerce and finance. New York also exerts global influence in media, education, entertainment, arts, fashion and advertising. The city is also a major center for international affairs, hosting the headquarters of the United Nations.


New York City comprises five boroughs: The Bronx, Brooklyn, Manhattan, Queens, and Staten Island. With over 8.2 million residents within an area of 304.8 square miles (789.43 km²), New York City is the most densely populated major city in the United States.


Many of the city's neighborhoods and landmarks are known around the world. The Statue of Liberty greeted millions of immigrants as they came to America in the late 19th and early 20th centuries. Wall Street, in Lower Manhattan, has been a dominant global financial center since World War II and is home to the New York Stock Exchange. The city has been home to several of the tallest buildings in the world, including the Empire State Building.



New York is the birthplace of many cultural movements, including the Harlem Renaissance in literature and visual art, abstract expressionism (also known as the New York School) in painting, and hip hop, punk, salsa, and Tin Pan Alley in music. It is also the home of Broadway theater.

In 2005, nearly 170 languages were spoken in the city and 36% of its population was born outside the United States. With its 24-hour subway and constant bustling of traffic and people, New York is sometimes called "The City That Never Sleeps". Other nicknames include Gotham and the "Big Apple."

Sabtu, 05 Juli 2008

Tembok Berlin di New York

(Foto by Mich)

Tanggal 4 July, yang bagi sebagian masyarakat dunia lebih dikenal dengan Fourth of July adalah hari kemerdekaan Amerika. Banyak yang menyebutnya dengan "Independence Day". Kebanyakan perusahan swasta maupun pemerintah meliburkan karyawannya. Saya memanfaatkan hari libur kali ini dengan berkunjung ke beberapa tempat bersejarah di NY. Saya tertarik untuk mengunjungi Battery Park, disana ada sisa runtuhan tembok Berlin yang terkenal itu.
http://www.batteryparkcity.org/page/index_battery.html
Battery Park memiliki luas kurang lebih 10 Hektar merupakan public park yang berlokasi di ujung selatan dari New York City borough of Manhattan, menghadap langsung The New York Harbor. Nama Battery diambil dari nama 'kelompok tempur' battery, yang tadinya ditempati beberapa kali oleh Belanda dan Inggris dengan tujuan mempertahankan pelabuhan yang ada disitu. Hari itu cukup panas, sekitar 95 derajat farenhait. Tapi teriknya mentari tidak mengurangi niat saya untuk jalan. Saya sempat mengabadikan beberapa tempat yang merupakan peninggalan sejarah. Salah satu yang menarik adalah sisa runtuhan tembok Berlin. Penggalan beton bersejarah ini diberikan oleh pemerintah Jerman dalam rangka peringatan 15 tahun runtuhnya tembok Berlin pada tanggal 9 November 1989 jam 12:57 siang.

Tembok Berlin (Berlin Wall) ini didirikan pada tanggal 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Jerman Timur di bawah pimpinan Walter Ulbricht. Antara tahun 1949 sampai tahun 1961 sudah lebih dari 2 juta penduduk Jerman Timur melarikan diri lewat Berlin. Hal ini membuat ekonomi Jerman Timur menjadi kedodoran, karena kebanyakan orang-orang yang masih muda yang melarikan diri. Maka secara rahasia dan tiba-tiba tembok ini dibangun.Tembok Berlin yang mengurung Berlin Barat dan memotong kota ini persis di tengahnya, menjadi simbol Perang Dingin yang paling terkenal. Banyak pembesar barat, terutama presiden Amerika Serikat yang mengunjungi tembok ini untuk mengutuknya. Presiden J.F. Kennedy pada tahun 1963 datang dan berpidato di sisi tembok ini dengan kalimatnya yang ternama: "Ich bin ein Berliner." Lalu 20 tahun kemudian, pada tahun 1983 presiden Ronald Reagan juga berpidato di sini dan mengutuk Uni Soviet yang disebutnya An Evil Empire, atau sebuah kerajaan kejahatan. Tetapi pada tahun 1989, pada hari peringatan Republik Demokratis Jerman, atau Jerman Timur, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev juga sempat mengunjungi Tembok Berlin dan berkata pada pemimpin Jerman Timur Erich Honecker bahwa “Barangsiapa terlambat datang, akan dihukum oleh hidup”.

Berlin Barat dan Berlin Timur pun berkembang dengan caranya masing-masing, tanpa ada hubungan secara resmi. Berlin Barat berkembang sebagai tempat permukiman badan pemerintahan, kota pameran dan kongres. Akan tetapi, Berlin Barat mengalami kekurangan orang sehingga akhirnya mendatangkan tenaga kerja dari luar (gastarbeiter), seperti Turki. Sementara itu, Berlin Timur berkembang menjadi kota industri dan pusat politik.
Akhirnya, pada 9 November 1989, dunia dikejutkan dengan runtuhnya Tembok Berlin yang berdiri kokoh membelah Jerman Barat dan Jerman Timur. Siapa pun tak bisa membantah menyatunya kembali warga Jerman Barat dan Jerman Timur dari ambisi kekuasaan. Benar. Keinginan bersatunya kembali warga Jerman Timur dan Jerman Barat merupakan persoalan fitrah kemanusiaan yang secara asasi ingin memperoleh kedamaian dan kebebasan.
Kini, sudah hampir 19 tahun runtuhnya Tembok Berlin, tetapi ribuan orang tetap datang berbondong-bondong berkunjung ke daerah itu. Seakan-akan jika tidak datang langsung berkunjung ke Berlin, kita tidak percaya warga Jerman Timur dan Jerman Barat sudah menyatu.

Perjalan kali ini cukup melelahkan. Setelah puas menjelajahi Baterry Park, termasuk mengunjungi Indian-American Museum dan Jewish Museum, saya juga menyempatkan diri mengunjungi Ground Zero. Bekas WTC itu sedang dibangun, puluhan bahkan ratusan pekerja terlihat sibuk dengan alat-alat beratnya. China Town adalah tempat persinggahan saya yang terakhir sebelum kembali dengan subway E-Uptown yang membawa saya kembali ke PennStation.

Tambahan foto perjalanan : Ground Zero, China Town dan Manhattan.

(Foto-foto by Mich)

Jumat, 27 Juni 2008

Kantor Pos, wasting my time and a lot of paper !!

The United States Post Office is wasting my time and a lot of paper!
Mungkin saya terlalu keras. Tapi ini kenyataan. Saya akui memang bahwa kantor pos di Amerika sangat "ajaib", cuman dengan 42 cents, saya bisa mengirim surat ke pelosok mana saja saya suka di Amerika ini. Ini sungguh menakjubkan, boleh dikata luar biasa berganda-ganda.

Mungkin banyak yang akan bertanya, kalau demikian bagaimana bisa Kantor Pos menghabiskan waktu anda percuma serta memubazirkan begitu banyak kertas ?
Sangat jelas tentunya, yaitu dengan receipt system. Ketika anda memasuki salah satu kantor pos cabang dimanapun dan membeli perangko ataupun mengirim surat, atau bentuk transaksi sekecil apapun, percayalah...anda harus siap mengkoleksi 'receipt raksasa' !
Ini tentu sangat mengganggu saya karena beberapa alasan. Pertama mengenai perangko. "You can't return stamps". Kalimat itu tertulis jelas di receipt tersebut. Pokoknya saya sudah pasti akan mendapat receipt sepanjang 11 inci (saya ukur), dengan segala keterangan yang tetek-bengek itu, walaupun saya cuman membeli perangko seharga 42 cents (tidak sampai $1). Mungkin saja suatu ketika saya kemudian memerlukan receipt itu untuk katakanlah "pengembalian" dari tempat kerja, kalau demikian ceritanya, sayalah yang akan meminta receipt dimaksud.

Lebih lanjut, ini yang membuat tambah kesal, receipt yang di dapat kelihatan seperti iklan raksasa. Disitu dijelaskan untuk memesan perangko online melalui Internet. Disitu juga dijelaskan untuk mengunjungi situs USPS untuk "learn more about our new competitive shipping prices". Di lembar receipt yg sama itu juga saya di-encourage untuk menulis pengalaman-pengalaman saya mengirim surat di kantor pos (suka-duka) dan kalau bisa memasukannya di Gallu Poll secara online.
Dan juga jangan lupa, semuanya itu butuh waktu 5 detik untuk satu receipt selesai di print. Wasting time!

Mari berhitung-hitung sederhana, katakanlah anda pergi ke kantor pos 2 kali seminggu. Berdasarkan standart lamanya hidup seseorang maka anda akan membuang waktu anda yang berharga sebanyak 12 jam (menunggu receipt di print). Padahal receipt tersebut akan langsung anda buang secepat itu berpindah ketelapak tangan anda.
Berdasarkan website dari USPS, di seluruh Amerika, ada sekitar 9 juta loket untuk transaksi per harinya. Dengan nilai transaksi mencapai 2.7 billion (Data tahun lalu). Katakanlah bahwa receipt tersebut panjangnya 12 Inci. Ini perhitungan matematika sederhana, bahwa akhirnya setiap tahun di seluruh counter-counter yang ada diantara 37.000 kantor pos, sebanyak 2.7 billion kaki (1 kaki = 0.3048 meter) receipt siap di print. Itu sekitar 511.633 miles, dengan demikian jaraknya cukup untuk pergi ke bulan dan kembali dengan masih ada sisa kertas receipt sepanjang 50.000 miles. Cara membayangkan dalam bentuk lainnya adalah bahwa panjangnya cukup untuk membungkus pusat bumi sebanyak 64 kali. Bukankah itu berarti membuang-buang sangat banyak kertas untuk sekedar receipt yang tidak berharga sama sekali itu ?
Untuk itu saat ini, saya akan menghubungi Kantor Pos dimana saya biasa mengirim surat untuk supaya menghentikan memberi saya receipt, kecuali kalau saya memintanya.

Ada yang lebih lucu dan aneh yaitu kalimat berikut, diambil dari situnya USPS, kalimat yang berbunyi demikian "Reducing the use of paper, supporting the use of recycled paper, and recycling waste paper have been goals for nearly two decades."
Ini membuat saya tambah pusing : Kalau begitu apa lagi yang mereka belum cantumkan dalam receipt yang sebenarnya sudah amat panjang itu ?!

Dan yang membuat saya tambah tidak mengerti adalah bahwa setiap kali saya balik belakang untuk meninggalkan kantor pos tanpa mengambil receipt-nya, saya pasti akan mendapatkan teguran serupa ini " Oops, wait a minute, sir ! ". Suara di balik counter itu benar-benar bikin saya jadi luar biasa kesal. "Receipt-nya ketinggalan, tuh!". Dasar !.

Rabu, 04 Juni 2008

Pandangan Yesus tentang uang

Mungkin hampir tidak ada masalah lain yang lebih banyak dibicarakan Yesus darpada tentang uang. Meski demikian, dua ribu tahun kemudian para pengikut Yesus masih sukar menyetujui dengan mantap apa yang Ia katakan. Salah satu alasannya adalah bahwa Ia jarang memberikan nasihat "praktis". Ia menghindari komentar tentang sistem ekonomi tertentu, dan seperti dalam Lukas 12, Yesus melihat uang terutama sebagai kekuatan rohani.
Seorang pendeta merangkum isu uang menjadi tiga pertanyaan : 1. Bagaimana cara anda mendapatkannya ? (Apakah ia melibatkan ketidak-adilan, kecurangan, penindasan orang miskin ?). 2. Apa yang anda lakukan dengan uang itu ? (Apakah anda menimbunnya dengan kikir ? Mengeksploitasi orang lain ? Menghamburkannya dengan kemewahan tanpa guna ?. 3. Apa yang dilakukan uang itu pada anda ? (Akibat-akibat).

Walalupun Yesus berbicara tentang ketiga issu itu, Ia berkonsentrasi pada masalah terakhir. Menurut penjelasanNya, uang beroperasi mirip dengan berhala. Uang bisa mendominasi dan mengikat kehidupan seseorang, mengalihkan perhatiannya dari Allah, Sang Pencipta. Yesus dengan keras memperingatkan agar tidak meletakkan kepercayaan pada uang untuk menjamin masa depan. Seperti yang terlihat dalam kisah-Nya tentang orang kaya, uang pada akhirnya akan gagal memecahkan masalah-masalah terbesar kehidupan manusia.
Ia juga menggunakan contoh Raja Salomo, orang terkaya di Perjanjian Lama. Bagi sebagian besar orang Yahudi nasionalis, Salomo adalah pahlawan, tetapi Yesus memandangnya dengan cara berbeda: kekayaan Salomo sudah lama lenyap, dan bahkan kejayaannya tidak lebih mengesankan dari bunga rumput biasa. Lebih baik percaya pada Tuhan untuk melimpahkan pemeliharaan pada seluruh bumi, daripada menghabiskan hidup mencemaskan tentang uang dan harta.

Jumat, 23 Mei 2008

Musim semi di Roosevelt Park


Di Roosevelt Park, NJ ada danau kecil yang indah pemandangannya. Hari Rabu yang lalu saya sempatkan diri untuk sekedar menghirup udara segar dengan jalan-jalan di pinggir danau kecil tersebut. Musim semi selalu indah, udara terasa segar, daun-daun terlihat segar dan pemandangan selalu enak dilihat. Ini hasil jepretan saya, seekor Unggas siap-siap melakukan rutinitasnya. Olah-raga air, berenang !

Foto ini terpilih ketika saya sertakan dalam pemilihan foto terbaik 2008 disini :
The editorial team of Photography Laureates has conducted a detailed examination of the best photographs submitted to us in the last months. We have decided to publish in an Anthology the very best photographers and the most exceptional pictures we have encountered.

We would like to congratulate you for being selected for publication as part of our highly acclaimed Photography Anthology. As such, you are a finalist for the $6500 prize. As a Laureate and talented photographer, you now have access to several networking opportunities aimed at exposing you to the photography community.

Your photograph was selected out of hundreds of competing entries and you will be published along with other talented photographers.
Your photograph, Ready to swim, was selected for its composition and illusion of depth...