Tampilkan postingan dengan label sosbud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosbud. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

Kenapa Harus Jokowi-Ahok?


Kenapa Harus Jokowi-Ahok?

Indonesia butuh pembaharu. Jakarta butuh pembaharu. Lantas kenapa mesti Jokowi? Sekarang mari kita buka mata kita lebar-lebar dan berandai-andai, kalau kita sudah tahu bahwa pemimpin yang terdahulu tidak bisa apa-apa, dan tak mampu berbuat banyak bahkan ketika dana yang tersedia begitu banyaknya, mengapa kita memilih mempertahankan status quo?

Kita sudah terbiasa untuk ragu-ragu memberikan kesempatan kepada mereka yang baru. Tapi coba renungkan, bagaimana kita tahu keunggulan Jokowi tanpa pernah memberinya kesempatan? Track record dan sepak terjangnya sebelum pemilihan ini sudah menunjukkan siapa Jokowi sesungguhnya. Ia mampu mengangkat Solo dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya. PAD Solo meningkat, PKL dipindahkan tanpa melalui tindak kekerasan dan paksaan, orang-orang pinggiran dan pasar didekati dan dicari tahu apa-apa yang kiranya perlu dibenahi lagi. Pokoknya seorang Jokowi menunjukkan paradigma baru, dan membuka mata banyak orang seperti apa pemimpin itu seharusnya. How the true leadership should be!

Kenyataan setelah putaran I pemilukada DKI menunjukkan betapa sosok seseorang ditambah kekuatan masyarakat (people’s power) sangat ajaib cara kerjanya. Hasil quick count menunjukkan ‘kehebatan’ sosok Jokowi. Pergerakan masyarakat memilih juga terasa benar. Rakyat ternyata semakin cerdas. Mungkin saja ada begitu banyak money politics yang tetap merajalela sana-sini, tapi kecerdasan masyarakat tidak dapat dibeli, dan apalagi ditipu. Mereka sudah melihat siapa Jokowi itu. Uang tidak bisa membeli harapan dan kepercayaan mereka terhadap Jokowi. Mereka (masyarakat pemilih) merindukan pemimpin yang mampu membawa pembaharuan. Yang mempunyai program nyata, dan visi misi yang jelas. Yang mampu meminimalisasi kemacetan, meniadakan banjir besar, menata kota, dan meningkatkan perekonomian daerah. Apakah Jokowi mampu? Itu harapan masyarakat luas. Untuk menguji harapan-harapan tersebut, beri Jokowi kesempatan.

Jokowi-Ahok adalah representasi orang-orang muda yang berhasil, namun di tengah-tengah keberhasilan mereka tetap rendah hati, bersahaja, dan memahami orang-orang kecil. Bukti keberhasilan Jokowi memimpin Solo dan Ahok memimpin Bangka Belitung adalah juga bukti nyata ‘kehebatan’ mereka. Lalu kenapa kita masih ragu memberi mereka kesempatan menunjukkan kehebatan mereka di Jakarta ini? Saran saya, jangan ragu-ragu, beri mereka kesempatan dan nikmati hasilnya.

Black campaign, perusakan citra, dan tindakan negatif lainnya jelas akan terus memborbardir pasangan Jokowi-Ahok. Apapun itu, percayalah bahwa rakyat Indonesia khususnya rakyat Jakarta bukan orang-orang bodoh yang mudah dipengaruhi, dan diadu domba. Kecerdasan masyarakat pemilih sudah dibuktikan pada putaran pertama. Sangat diharapkan kecerdasan itu akan terus dipertahankan dan dipakai pada pemilihan putaran kedua. Jangan lupa peran media apapun (termasuk media sosial dan BBM) sangatlah besar. Semakin banyak kita menginfokan Jokowi-Ahok dan program-program mereka, akan semakin tersampaikan keunggulan-keunggulan pasangan ini.

Mari kita wujudkan Indonesia Baru lewat Jakarta Baru. Jakarta adalah ibukota Indonesia, dan dari sanalah perubahan dan pembaharuan itu harus bermula.


Michael Sendow

Sabtu, 23 Juni 2012

Cintai Budayamu, Hargai Budaya Orang Lain



 
Sejak kita dilahirkan sampai rambut kita beruban, kita sudah diperhadapkan dengan budaya. Kita bersinggungan dan bahkan hidup dalam lingkungan budaya tertentu. Budaya apa pun yang melingkupi setiap gerak langkah kita, haruslah kita hargai dan posisikan sebagai mana mestinya.
Sebagai buah dari enkulturasi, maka kita menjadi orang yang berbudaya. Hal itu tentu saja baik, namun serempak ada bahayanya bahwa kita hanya mengenal budaya kita sendiri dan buta terhadap budaya lain.

Menurut seorang filsuf terkenal bernama Aristoteles, demokrasi timbul dari ide yang mengatakan bahwa semua manusia yang dalam hal tertentu memiliki persamaan, sesungguhnya pada hakikatnya memang sama. Karena semua manusia sama-sama bebas maka semua manusia secara mutlak memiliki kesamaan hak. Nah, saya lalu berpikir apa kesamaan hak yang paling hakiki? Jawabannya adalah bahwa mereka berhak memilih. Apapun pilihan mereka itu adalah hak mereka yang harus kita hormati. Oleh sebab itu pula, apapun budaya yang melingkupi seseorang yang sudah dipilihnya, patut dan semestinya kita hormati. Sebagaimana mereka menghormati budaya kita. Atau adap istiadat yang kita anut. Kalau kita hendak memaksakan budaya kita supaya diikuti orang lain, itu berarti serempak kita sementara menolak keberagaman dan diversitykita sebagai suatu bangsa yang besar. Padahal di negeri sebesar Nusantara ini, multicultural dan diversity adalah sebuah keniscayaan.

Keragaman budaya atau “cultural diversity” di Indonesia adalah suatu kenyataan. Dan kenyataan ini tidak mesti dan tidak boleh kita tolak. Tapi memang pada satu sisi kenyataan itu bisa menjadi potensi yang teramat bagus. Potensi yang tidak berkesudahan kalau kita mampu mengelolanya, tapi di sisi lain dapat memunculkan konflik. Kenapa? Ya, kalau kita tidak mampu mengatur dan saling menghargai keberagaman budaya yang ada, dapat saja memicu suatu konflik. Kita harus memiliki apa yang saya istilahkan sebagai “multicultural management” dan “multicultural understanding.”


Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar di ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke, dapat dipastikan juga bahwa tingkat peradaban kelompok-kelompok suku-bangsa dan masyarakat itu berbeda-beda. Maka tidaklah berlebihan untuk menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman budaya atau tingkat heterogenitas yang tertinggi.

Bahkan menurut catatan historis, keragaman budaya yang kita miliki sudah menjada daya tarik dan daya pikat tersendiri bagi bangsa-bangsa lain. Mungkin tidak semua kita kenal dengan Cheng Ho. Ia ada seorang pemuda yang telah menempuh tujuh ekspedisi maritim untuk menemukan benua-benua. Walau secara tersembunyi tapi terlihat bahwa sebenarnya tujuan utama Cheng Ho melalui ekspedisi itu adalah untuk mengeksplorasi dan kalau mungkin untuk sekaligus mengeksploitasinya.

Tujuh kali Cheng Ho berlayar bolak-balik dalam kurun waktu 1405-1432. Di tiap negeri ia mempelajari seluk-beluk budaya setempat. Menurut catatan hariannya di Semarang ia terpesona menonton wayang kulit namun terkejut melihat keris di pinggang para pria. Di Surabaya ia terheran-heran melihat burung yang berbicara seperti manusia. Di Palembang dan Banda Aceh ia juga mendapatkan pengalaman budaya yang unik bagi dirinya. Ia juga mengamati kehidupan agama. Ia lalu memperkenalkan agama Islam, namun toleran terhadap agama lain. Di berbagai tempat ia membangun rumah ibadah untuk agama-agama lain. Di Sri Lanka terdapat prasasti doa Cheng Ho yang lintas agama. Data Ekspedisi Cheng Ho antara lain ada di buku setebal lima ratus halaman berjudul 1421—The Year China Discovered the World tulisan Gavin Menzies, seorang kapten kapal Inggris.

Dalam konteks masa kini, menurut saya ada tiga hal yang perlu kita ketahui sebagai wujud nyata dari kebudayaan yaitu pengetahuanbudaya, perilaku budaya atau praktek-praktek budaya yang masih berlaku, dan produk fisik kebudayaan yang berwujud artefak atau bangunan. Apa contohnya? Ya sebut saja antara lain produk kesenian dan sastra, tradisi, gaya hidup, sistem nilai dan kepercayaan, rumah adat dan sebagainya.

Saya sebenarnya sangat berharap bahwa pemerintah (harus) punya andil dalam konteks menjaga keanekaragaman kebudayaan. Dan Anda mesti tahu bahwa andil pemerintah itu sangat penting! Dalam konteks ini pemerintah berfungsi sebagai pengayom dan pelindung bagi warganya, sekaligus sebagai penjaga tata hubungan interaksi antar kelompok-kelompok kebudayaan yang ada di Indonesia. Tapi rupa-rupanya hingga saat ini pemerintah sepertinya kurang menjalankan fungsinya tersebut. Apakah pemerintah masih memandang sebelah mata potensi keragaman budaya yang kita miliki? Entahlah. I do really hope they’ll done better.

Contoh lain yang cukup menonjol adalah juga bagaimana misalnya karya-karya seni hasil kebudayaan yang dulunya harus dipandang dalam prespektif kepentingan pemerintah. Pemerintah menentukan baik buruknya suatu produk kebudayaan berdasarkan kepentingannya. Implikasi yang kuat dari politik kebudayaan yang dilakukan pada masa lalu (dimulai sejak masa Orde Baru) adalah penyeragaman kebudayaan supaya menjadi “Indonesia”. Dalam artian bukan menghargai perbedaan yang tumbuh dan berkembang secara alami. Tapi terlalu dipaksakan untuk diseragamkan!

Kita harus berusaha untuk mempelajari dan menghargai keragaman budaya kita. Kita melihat kenisyaan adanya perbedaan tersebut, tapi kita melihatnya dengan mata iman, bahwa betapa indahnya perbedaan itu. Menghargainya dalam bingkai “Bhineka Tunggal Ika”. Bila kita sempat atau pernah bertempat tinggal beberapa tahun di tengah budaya lain di bumi pertiwi ini dan mengalami pengalaman hidup lintas budaya, maka sikap kita terhadap budaya lain menjadi terbuka dan kita mulai belajar menghargai budaya lain. Pengalaman dan pengetahuan itu akan membuka wawasan kita dan membuat kita kagum bahwa bangsa kita bersifat multikultural atau majemuk dalam budaya. Dengan demikian kita tidak lagi menilai budaya lain dengan ukuran kita sendiri.

Lantas kita mungkin sampai pada pertanyaan, Mana budaya yang benar? Kalau kita mulai memilih mana yang benar, maka pasti ada yang salah, padahal tidak ada yang salah! Karena tiap budaya bebas untuk berada sebagaimana adanya. Secara alamiah. Tidak perlu diseragamkan. Ini disebut relativisme kultural (cultural relativism), artinya budaya selalu bersifat relatif, sehingga tidak boleh diukur dengan ukuran tunggal. Menyangkal kemajemukan budaya adalah menyangkal hakikat bangsa kita. Menyangkal hakikat manusia, karena pada dasarnya kita memang adalah majemuk. Berbeda-beda tapi satu.


***

Kamis, 21 Juni 2012

Jangan Remehkan Mereka Yang Memiliki Kulit Hitam


Si Kulit Hitam Alias "Black People"


Setelah begitu lama bercokol dan bergaul dengan masyarakat Amerika di Jersey dan New York, saya melihat bahwa di Amerika yang modern dan begitu maju ternyata masih saja ada dan terlihat jelas pun yang tersamar tindakan diskriminatif terhadap orang kulit hitam dan kulit berwarna. Walaupun sudah sering dikampanyekan tentang anti rasisme dan diskriminasi tapi tetap saja tak bisa dipungkiri hal itu masih banyak terjadi. Warga kulit hitam dan kulit berwarna sepertinya masih ditempatkan sebagai warga negara kelas dua dan kelas tiga. Pernah untuk antri makan di sebuah rumah makan, beberapa teman saya dilayani belakangan padahal sudah antri duluan, hanya diolehkarenakan mereka memiliki kulit berwarna sawo matang. Ada juga kawan saya yang lain, asal Kenya (warga kulit hitam) mendapat perlakuan dan penghinaan yang tak pantas oleh beberapa orang kulit putih yang menganggap diri mereka lebih superior.      

Lantas kita mungkin bertanya-tanya, apakah dengan demikian maka warga kulit putih adalah lebih unggul, lebih hebat, dan lebih mulia? Tentu tidak. Sebab di mata Allah sang pencipta, kita ini semuanya sama dan setara. Nasib dan warna kulit kita boleh berbeda tapi Ia tidak memperhitungkan itu sebagai syarat kita menjadi lebih mulia di hadapanNya.  Jangan pernah berpikir bahwa Allah akan tertarik hanya dengan melihat warna kulit kita. Sama sekali tidak. Di mataNya, yang kulit putih, kulit hitam, maupun kulit berwarna tetaplah sama. Yang satu tidak lebih mulia dari yang lain. Yang satu tidak lebih rendah dari yang lain.

Ada sebuah kisah unik yang terjadi pada tanggal 20 Oktober 1968. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 7.00 malam, nampak beberapa ribu penonton masih memadati Mexico City Olympic Stadium.Pada saat itu juga suasananya sudah mulai gelap dan dingin. Para pelari marathon yang tak kuat lagi dan sudah kehabisan tenaga dibawa lari ke pos-pos pertolongan pertama. Mereka dirawat dan diobati. Nah, lebih dari satu jam sebelumnya, seorang bernama Marco Wolde dari Etiopia melintasi garis finish, menjadi pemenang dari lomba lari sejauh 26 mil 385 yard tersebut. Ia menjadi juara satu, meraih medali emas untuk negaranya. Tapi bukan sosok dia yang akan saya soroti kali ini. Tapi seseorang yang menjadi juara paling belakang alias juara satu dari belakang.


Pada saat itu ketika para penonton yang masih ada sudah bersiap-siap untuk meninggalkan stadium, mereka yang duduk di dekat gerbang marathon tiba-tiba mendengar suara sirine dan peluit polisi. Semua mata tertuju ke arah gerbang. Lalu sesosok tubuh yang mengenakan nomor 36 dan warna kebangsaan Tanzania memasuki stadium itu. Nama atlet itu John Stephen Akhwari. Ia adalah orang terakhir yang menyelesaikan lari marathon tersebut. Perjuangannya mencapai garis finish tidaklah mudah. Ia terjatuh selama pertandingan dan mengalami luka di lutut dan pergelangan kakinya. Kemudian dengan kakinya yang berdarah dan berbalut perban, ia meringis perih dengan setiap langkah pincang di jalur lari 400 meter yang tersisa, tentu dalam usahanya untuk mencapai garis akhir.

Para penonton yang belum pulang pun berdiri dan memberi tepuk tangan. Berusaha memberinya semangat. Ia pun berhasil mencapai finish. Setelah itu Akhwari perlahan-lahan meninggalkan lapangan. Belakangan seorang reporter mengajukan pertanyaan yang mungkin ada di dalam benak setiap orang kepada Akhwari: “Mengapa Anda terus berlomba setelah Anda terluka cukup parah?” Bahkan saat ia terus berusaha keras mencapai garis finish padahal jelas-jelas ia adalah pelari terakhir yang tiba di garis finish. Tidak mungkin lagi meraih gelar apa  pun. Untuk pertanyaan itu Akhwari menjawab, “Negara saya mengirim saya sejauh 7.000 mil tidak untuk memulai lomba. Mereka mengirim saya sejauh 7.000 mil untuk menyelesaikannya.” Sebuah jawaban yang sungguh-sungguh menggetarkan.

Lihat benar, Akhwari adalah orang kulit hitam yang kokoh dan sanggup berjuang dengan gigih. Ia mungkin saja dianggap sebagai pemuda kulit hitam yang tidak ada apa-apanya. Apalagi superioritas kulit putih masih begitu mencolok dan terlalu kentara pada masa-masa itu. Pemuda kulit hitam ini memang tidak menjadi juara pada lomba marathon itu, tapi mental yang dimilikinya adalah mental juara. Ia mungkin berbeda dengan mereka yang masuk garis finish duluan, tapi ia memiliki semangat yang tak mudah patah, dan ia menjunjung tinggi misi negaranya yang sudah mengirim dia untuk berlomba. Ia tidak menyerah walaupun secara jelas ia adalah pelari terakhir pada lingkaran itu.

Ia mungkin adalah pemuda kulit hitam dari suku bangsa yang tak terkenal. Ia bukanlah seorang kulit putih dari Amerika atau Inggris, tapi ia memiliki sesuatu yang pantas dan patut dibanggakan. Akhwari memiliki kegigihan dan mental juara. Ia tidak menjadi juara pada perlombaan marathon tersebut, tapi mental pemenang ada dalam dirinya. Ia sudah menjadi pemenang terhadap kekalahan terpahit yaitu ‘menyerah di tengah jalan’.

Bukankah memang benar bahwa tiap orang memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Tapi setiap orang juga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tuhan Sang Pencipta tentu merancang keunikan dan berbedanya manusia itu dengan tujuan sangat mulia. Supaya manusia belajar menghargai setiap segala sesuatu yang berbeda dari dirinya. Belajar memahami yang berbeda dan belajar mengasihi yang berbeda. Apa hebatnya kalau manusia hanya mampu dan sanggup mengasihi yang ia suka, yang mirip dengan dirinya, tapi menolak semua yang berbeda di matanya? Kalau kita sanggup mengasihi mereka yang berbeda dengan kita, barulah kita akan memahami benar ajaran untuk “mengasihi musuh” dan “tidak membenci orang yang membenci kamu.” Ada nilai lebih yang dapat dan harus kita ambil dari sang pemuda kulit hitam tadi. Entah benar atau tidak, saya pernah membaca bahwa rata-rata orang kulit hitam memiliki semangat juang dan kegigihan jauh melebihi bangsa kulit putih.

Saya juga ingin mengajak pembaca melihat sebuah kesaksian untuk sekedar melihat sebuah sejarah kelam yang pernah dialami seorang pemuda kulit hitam lainnya. Ia adalah seorang petinju besar. Terlahir dengan nama Cassius Clay, petinju asal Amerika yang akhirnya mengubah namanya menjadi Muhammad Ali setelah menganut agama Islam. Clay hanya sekali tampil di ajang Olimpiade, yaitu pada Olimpiade tahun 1960 di Roma, Italy. Namun, ketangguhannya sebagai petinju yang mampu meraih medali emas olimpiade disertai perilakunya di luar ring membuatnya menjadi atlet yang tidak mungkin dapat dilupakan dunia olahraga.

Ketika tampil di ajang besar seperti olimpiade, Clay masih merupakan petinju amatir yang baru berusia 18 tahun. Mengandalkan pukulan kerasnya yang begitu menyengat lawan dan jab yang bertubi-tubi, Clay mampu lolos ke babak final di kelas berat ringan. Pada babak semifinal dia juga sudah sempat menghentikan perlawanan petinju besar Australia Tonny Madigan. Sukses yang dibuat petinju muda asal Louisville itu membuatnya melangkah pasti menuju babak final. Ternyata, Clay masih harus berhadapan dengan seorang petinju hebat asal Eropa. Ia adalah juara tiga kali tinju amatir Eropa, bernama Zbigniew Pietrzykowski asal Polandia. Tapi dengan kegigihannya, ia Kemenangan di arena olimpiade tentu saja melambungkan nama Clay sebagai pahlawan Amerika dari arena ring tinju.

Menurut kabar yang beredar bahwa sekembalinya Clay dari Roma, ia langsung dirayu oleh sekelompok pengusaha yang mengajaknya untuk segera beralih ke dunia tinju professional. Pada masa itu tentu Clay sangat bangga dengan medali olimpiadenya. Ke mana pun dia berada, Clay selalu membawa medalinya itu. Bahkan di saat hendak tidur, medali itu didekapnya erat-erat. Tetapi semuanya itu berubah, totally change dalam waktu yang sangat singkat. Kenapa? Karena meski sudah mengharumkan nama Amerika di arena olahraga internasional, Clay rupa-rupanya masih terkena aturan diskriminasi ras kulit hitam yang masih diterapkan pada masa itu. Clay ditolak ketika hendak makan di sebuah restoran yang bertuliskan “hanya untuk kulit putih” di sebuah papan gantung di depan restoran itu. Dia dan sahabatnya bernama Ronnie King bahkan sempat dikejar-kejar sekelompok pemuda bermotor. Clay pun berkata dengan penuh kesedihan, “Saya meraih medali emas olimpiade untuk Amerika, dan sekembalinya saya ke sana, saya masih diberlakukan sebagai seorang nigger(budak).”

Dapat Anda bayangkan bagaimana sakit hatinya seorang yang sudah berjasa, namun hanya karena warna kulit yang berbeda ia mesti mendapat perlakuan tidak adil. Sebagian besar masyarakat kulit putih waktu itu menilai sesuatu dengan memakai satu ukuran tunggal. Memakai ukuran mereka sendiri. Mereka beranggapan bahwa ras merekalah yang paling hebat, superior, dan dengan demikian memandang remeh dan enteng warga negara yang memiliki kulit berwarna lain. Padahal dalam hidup sosial bermasyarakat dan bernegara berlaku The Golden Rule: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Sebagai suatu protes kerasnya atas perlakuan yang ia terima dan yang ia rasakan sebagai sebagai sesuatu yang tidak adil itu, Clay kemudian melemparkan medali emas olimpiade yang sudah susah payah diraihnya dan yang sangat ia banggakan itu ke sungai Ohio dari atas sebuahjembatan. Clay kemudian mengganti namanya menjadi Ali. Dalam pengakuannya, pergantian nama itu dilakukan untuk melepaskan nama budak yang pernah dipakainya.

Kariernya menjadi sangat cemerlang ketika pindah ke jenjang professional. Tercatat sebanyak tiga kali, petinju yang memiliki julukan “Si Mulut Besar” itu berhasil menjadi juara dunia. Pertama dari tahun 1964 hingga 1967, kemudian dari tahun 1974 hingga 1978, dan tahun 1978 hingga 1979. Bertanding pro sebanyak 61 kali, Ali meraih kemenangan sebanyak 57 kali. Ia dikenal sebagai petinju yang mampu menghibur sekaligus memainkan emosi penonton. Makanya jangan heran kalau ia dipuja jutaan orang di seluruh dunia.

Ketika olimpiade tahun 2004 dilangsungkan di Athena, Ali bahkan dinobatkan sebagai salah satu duta Olimpiade Athena. Puluhan tahun sudah berlalu, tapi pada saat oliampiade di Athena itu poster-poster dan lukisan bergambar Ali masih bisa terlihat dan terus terpampang di pusat-pusat kota, dan di banyak tempat lainnya. Ia memang adalah atlit berkulit hitam, tapi ia adalah atlet yang tak terlupakan. Ia dikenal dan selalu dikenang.

Kalau kita masih memandang rendah orang yang memiliki warna kulit berbeda dengan kita, itu tandanya kita masih mau diperbudak oleh ’paradigma lama’ tentang kualitas dan kelas suatu ras ditentukan oleh warna kulit. Dan betapa kerdilnya kita kalau kita membiarkan diri kita masih terus diperbudak oleh pikiran sempit dan dangkal tersebut.

Apapun warna kulit kita, semestinya kita mendapat hak dan perlakuan yang sama. Sebab, Tuhan sang pencipta tidak akan memanggil kita berdasarkan warna kulit kita. Alangkah sombong dan takaburnya kita, apabila karena warna kulit kita berbeda dari yang lain, lantas kita menganggap bahwa kita lebih hebat dan unggul dari yang lain.

***



”Kalau Anda ingin dipandang orang lain sesuai apa yang Anda inginkan, lakukan yang sama terhadap orang lain seberapa pun tidak samanya ia dengan diri Anda”----Michael Sendow.

Senin, 11 Juni 2012

Perbudakan Harus Ditiadakan




Perbudakan merupakan bagian integral dari kehidupan ekonomi masyarakat Yunani purba dan selama berabad-abad perbudakan telah diterima sebagai hal yang benar dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Memang bagi masyarakat mereka hal itu sudah semesti seperti itu dan harus seperti itu suka atau tidak suka. Pernah ada yang coba-coba menentang masalah perbudakan itu, sebut saja seperti apa yang digaung-gaungkan oleh seorang Filsuf bernama Plato di dalam The Laws, tetapi justru hal itu segera ditantang oleh filsuf lainnya bernama Aristoteles, saya lebih senang menyebutnya sebagai Kakek Aris. Ia menegaskan bahwa perbudakan yang baik dan benar adalah perbudakan berdasarkan kodrat, maka sesungguhnya Aristoteles telah meletakan dasar yang lebih kokoh lagi bagi perbudakan yang memang telah lama berlangsung dan yang selama itu dianggap (sudah) benar. Mereka yang menentang perbudakan dianggap menentang kodrat. Heemmmm, apa memang harus demikian?

Menurut kakek Aris bahwa dalam suatu rumah tangga sebenarnya terdapat tiga hubungan. Ketiga hubungan itu adalah, hubungan antara suami dan istri, hubungan antara ayah dan anak, serta hubungan antara tuan dan budak. Hubungan antara tuan dan budak disebut sebagai pertuanan (mastership), hubungan antara suami dan sitri disebut perkawinan (matrimonial) dan hubungan antara ayah dan anak disebut perbapakan (paternal).

Nah, dalam manajemen rumah tangga, satu-satunya hubungan yang memiliki nilai ekonomis bagi kesejahteraan rumah tangga ialah hubungan pertuanan (mastership). Oleh karenanya menurut si Kakek Aris bahwa memiliki budak adalah merupakan suatu keharusan bagi setiap keluarga yang mengaku sebagai warga negara. Dan mereka yang disebut warga negara haruslah dibebaskan dari segala jenis pekerjaan kasar atau pekerjaan apapun yang bertujuan untuk memperoleh nafkah, karena hanya dengan demikian mereka dapat memusatkan perhatian pada urusan negara. Budaklah yang harus bekerja demi nafkah hidup keluarga tuannya dan dari situ pulalah ia memperoleh nafkah.


Lebih mengerikan lagi, masih menurut Kakek Aris bahwa meskipun para budak merupakan bagian yang amat penting dalam struktur rumah tangga, namun peranan dan kedudukan para budak sangat berbeda dengan peranan dan kedudukan tuan dan anggota keluarga tuannya. Sang tuan dan seluruh anggota keluarganya disebut orang-orang bebas sedangkan budak sama sekali tidak memiliki kebebasan. Mereka adalah semata-mata untuk kepentingan sang tuan. Karena mereka itu sudah dikodratkan menjadi budak, maka mereka adalah manusia yang tidak memiliki kehendak bebas dan kemauan sendiri.  Bahkan keberadaan mereka bergantung sepenuhnya pada sang tuan. Sang tuan harus menjadi segala-galanya bagi si budak. Bagaimana menurut Anda? Keterlaluan? Oh ya, sangat keterlaluan!

Om Aris malah bilang bahwa sebagai salah satu alat, budak merupakan bagian dari milik atau kepunyaan sang tuan. Dengan demikian, bagi sang kakek budak pada hakikatnya sama saja dengan benda-benda lain yang dimiliki tuannya. Bahkan lebih jauh ia berpendapat bahwa budak hampir sama saja dengan binatang yang dipelihara untuk pekerjaan tertentu, karena baik budak maupun hewan peliharaan, semuanya menyiapkan dan mensuplai kebutuhan sang tuan dengan tenaga dan tubuh mereka. Hampir pingsan saya mencerna jalan pemikiran sang kakek itu. Sang kakek, yaitu Aristoteles adalah seorang filsuf besar yang lahir sekitar tahun 384S.M. di Stagyra Yunani Utara dan meninggal dunia pada 7 Maret sekitar tahun 322S.M.

Bagi saya pribadi, apapun alasan yang hendak dikembangkan dan dikemukan oleh para ahli selama itu mengacu pada ’perlawanan kodrati’ terhadap prinsip ’equality’ ciptaan Tuhan bernama manusia itu, harus kita tolak. Ketika Tuhan menciptakan manusia sama dan sederajat di hadapanNya, maka perbudakan dengan sendirinya adalah tidak baik untuk terus dilakoni. Apalagi secara serempak menyamakan budak dengan binatang piaraan. Ingat bahwa God made men equal, oleh sebab itu jangan pernah kita memperbudak manusia lain seenak udel kita. Salah besar itu.

Kalau kita masih mendukung konsep perbudakan (dalam hal dan bentuk apapun itu), coba kita jawab dengan hati terbuka pertanyaan ini: Maukah Anda sendiri menjadi seorang budak?



***

Minggu, 03 Juni 2012

Jadilah Orang Baik Terhadap Semua Perbedaan


Jadilah Orang Baik Walaupun Berbeda

Menjadi orang yang baik adalah impian semua umat manusia di dunia ini. Entahkah ia miskin atau kaya, raja atau rakyat jelata, semuanya tentu ingin menjadi orang baik yang baik-baik saja hidupnya. Tapi apa sih kriteria menjadi orang baik itu? Apakah karena dianya dekat dengan Sang Pencipta? Atau karena sikapnya yang santun? Karena ia orang yang bijaksana, dan selalu berpikir bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara? Ataukah orang baik itu adalah mereka yang tekun dan rajin beribadah? Mungkin saja semuanya itu betul, tapi bagi saya semuanya itu masih kurang kalau belum ditambah dengan sikap menghargai dan mau menerima perbedaan.

Bagi umat muslim, prinsip-prinsip yang sudah dijunjung oleh Nabi Muhammad seperti aturan paten yang memang tidak bisa di rubah. Bahwa pada dasarnya manusia hidup di dunia ini hanyalah untuk berbuat baik. Lihatlah dan dengarlah ceramah-ceramah agama yang selalu dan selalu saja “menyuruh” orang untuk selalu dekat dengan Tuhan. Memikirkan akhirat adalah hal yang utama dan selalu diajar-ajarkan. Terus terang saja walau saya bukan muslim tapi saya kagum dengan sosok-sosok seperti Aa. Gym, Alm. Zainuddin MZ, Gus Dur, Cak Nur, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mengajarkan banyak kebaikan tanpa pernah menyepelekan tentang betapa pentingnya menghargai perbedaan.

Bagi umat kristiani tentu saja keteladanan Yesus Kristus harus terus dipelajari, dan bukan hanya itu saja, tapi juga supaya diusahakan sebisanya untuk mengejahwantahkan dalam perbuatan setiap hari. Segala kebaikan yang Ia ajarkan. Segala teladan yang Ia sudah tunjukkan. Termasuk bagaimana mengasihi sesama manusia, dan bukan hanya sesama manusia yang seagama saja. Mengasihi sesama manusia, titik! Bukan sesama orang Kristen saja.


Saya begitu yakin bahwa semua orang pada dasarnya baik dan bijaksana. Bukankah mereka rela banting tulang dan bekerja keras bukan untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk hidup dan kehidupan orang lain. Ketika mereka mau tersenyum dan menyapa orang lain juga adalah contoh klise bahwa manusia sebenarnya dapat menjadi baik dan semakin baik lagi kalau mereka sendiri mau untuk itu. Bahkan ada penelitian yang mengatakan sejahat apapun manusia itu tetaplah masih ada butir-butir kebaikan dalam dirinya. Bahwa manusia yang jahat sekalipun, tetaplah pantas dan layak mendapatkan cinta dan kasih.

Di India ada sebuah penjara yang paling angker. Anda mungkin sudah pernah mendengar penjara bernama Tihar di pusat New Delhi India. Di situ sudah terkenal sebagai penjara paling mengerikan, kotor, rusak dan penuh kejahatan terselubung. Makanan yang dimasak di dapur penjara itu untuk makanan para narapidana adalah sayur mayur saja, tapi menurut kesaksian beberapa narapidana justru terlihat seperti non vegetarian food karena sayurannya sudah dipenuhi banyak serangga.

Nah, di dapur itu yang menjadi juru masaknya adalah seorang narapidana yang bisa masak, tapi ia tidak dibayar. Ironisnya, narapidana yang tidak dibayar untuk masak memasak itu adalah juga orang yang menyebarkan dan menularkan kuman, cacing, dan bakteri karena kukunya tidak pernah dipotong, tangan dan baju tidak pernah dicuci, serta rambut yang kusut dan kumal. Pokoknya serba kotor dan menjijikkan. Tukang masak di penjara itu tidak pernah diperiksa kesehatannya, padahal ada yang akhirnya ketahuan menderita penyakit TBC dan infeksi saluran penapasan, serta penyakit-penyakit menular lainnya. Jadi inilah gambaran betapa jorok dan kotornya penjara tersebut.

Penjara Tihar juga sangat terkenal dengan berbagai tragedi yang menyayat hati. Di situ juga sering terjadi peperangan antar geng, tempatnya para narapidana yang menjalankan praktek pemerasan dari balik jeruji, sarana korupsi yang sudah luar biasa merajalela oleh para aparat, serta kekerasan dan penganiayaan. Tempat yang sangat layak disebut neraka. Lalu apakah ribuan orang dibalik jeruji besi itu lantas bukan siapa-siapa lagi, dan pantas dihabisi saja? Atau dikucilkan, dibiarkan, dan dibuang saja?

Bagi Dr. Kiran Bedi jawabannya adalah ”tidak!” Mereka tetap pantas dikasihani dan dikasihi. Kiran Bedi adalah seorang Inspektur Jendral yang ditugasi untuk memimpin penjara paling angker Tihar tersebut. Sewaktu baru ditunjuk, sebagai orang baru ia berkeyakinan sangat teguh bahwa ia akan bisa menjadikan penjara itu menjadi Nirvana atau sorga bagi banyak orang. Anda mau tahu apakah ia berhasil atau tidak? Setelah bertahun-tahun memimpin penjara Tihar, wanita itu akhirnya berhasil mengubah penjara itu menjadi ’sorga’ bagi setiap penghuni di dalamnya. Ia melakukan semuanya itu dengan segala cinta dan kasih yang ia miliki. Cinta dan kasih yang tulus seperti yang dipunyai seorang Mother Theresa. Mereka memperjuangkan amanat cinta kasih itu tanpa pernah membeda-bedakan. Bagi mereka itulah arti menjadi orang baik.

Dr. Kiran Bedi dianugerahi penghargaan Tom Gitchoff Award pada tahun 2001 di Amerika Serikat, karena dianggap telah berhasil mengubah secara signifikan kualitas keadilan di India. Keberhasilannya membuat Tihar menjadi Nirvana juga menjadi sorotan banyak media masa kala itu. Bahkan ada sebuah kesaksian dari bekas narapidana di penjara itu yang menulis seperti ini:

”Aku menyangka Nirvana itu hanya ada ketika nyawaku telah tiada, namun ternyata aku salah. Nirvana tidak hanya berada di alam sana. Ialah Tihar, sebuah Nirvana di balik jeruji besi.”

Manusia dengan latar belakang yang berbeda baik dari segi suku, ras, agama, dan warna kulit adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Semua hal berbeda itu sudah ada sebelumnya dan seorang anak manusia harus belajar untuk menerima semuanya itu dengan hati yang terbuka. Karena dihadapkan pada aneka kenyataan perbedaan yang terberi ini, manusia belajar untuk menyesuaikan diri agar bisa berelasi dengan sebaik mungkin dan secara harmonis dengan yang lain (yang berbeda dengan dirinya). Dengan demikian, realitas perbedaan tidak bisa dihapus sama sekali dari muka bumi ini demi sebuah harmoni palsu yang ingin dibangun. Sebab harmoni sejati dibangun bukan di atas kesamaan, tetapi di atas perbedaan. Kalau itu bisa terpahami dengan benar, maka menjadi orang yang baik bukan lagi sekedar slogan atau fatamorgana semata. Menjadi orang baik seperti apa yang dicontohkan Dr. Kiran Bedi boleh pula kita alami, lalui, bahkan lakukan dalam hidup kita yang singkat ini.

Saya pernah mendengar sebuah pandangan yang mengatakan bahwa katanya kenapa sih kita tidak membuat sebuah pembaharuan dengan cara homogenisasi terhadap perbedaan itu agar bisa mengurangi ketegangan dan konflik? Seperti apa misalnya? Ya, katanya lebih baik semua manusia tidak beragama saja, agar bisa hidup damai, rukun, dan tentram dengan tetangganya. Lebih baik menjadi atheist. Bagi saya sikap, dan cara pandang seperti itu adalah kekanak-kanakkan, dan terlalu pragmatis dalam menyikapi perbedaan. Atau ada juga yang menganjurkan, supaya damai di bumi akan tercipta, maka lebih baik semua orang memeluk satu agama yang sama. Itu adalah cara dan sikap yang tidak benar. Untuk kita menjadi seorang yang baik, haruskah karena memiliki persamaan?

Bukankah daripada berusaha mati-matian untuk menciptakan homogenisasi terhadap sebuah kenyataan yang sudah pasti sangat heterogen, yang sebenarnya sudah Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah, adalah lebih realistis dan acceptable jika manusia belajar untuk menghadapi kenyataan hidup  yang serba berbeda dan jamak ini sebagai sebuah kekayaan.

Kita harusnya memandang perbedaan itubukan sebagai “momok yang menakutkan”, karena kalau itu yang terjadi maka jelas akan menghambat ruang gerak dalam berelasi satu sama lain. Sebagai pemeluk agama, ras yang berlainan, datang dari budaya yang tak sama, status sosial yang bertolak belakang, yang memang sampai kapan pun tidak akan menjadi satu dan sama, marilah kita belajar untuk memandang yang lain sebagai “sesama saudara ciptaan Tuhan”. Sesuatu yang indah dan baik yang sudah Tuhan berikan. Ingatlah bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia pertama itu, Adam dan Hawa, IA melihat bahwa ciptaanNya itu sungguh teramat baik. Kita ini adalah mahluk mulia, seberapa pun perbedaan kita, tetaplah saudara di dalam DIA.

Yang lain itupun (baca: yang berbeda), akan kita anggap sebagak kawan dan bukan lawan yang harus ditaklukan dan dikalahkan. Hidup ini bukan soal kalah-menang, bukan soal menakhlukan yang berbeda dengan saya agar menjadi sama dengan saya, masuk dalam kelompok saya, menganut agama saya, mengikuti budaya saya, dan sebagainya. Menjadi orang baik itu bukan ketika kita berhasil membuat banyak orang mengubah diri mereka untuk menjadi sama seperti kita. 

Kita sebenarnya bisa menciptakan atau menghadirkan surga di bumi ini. Sebagaimana Dr. Kiran menghadirkan surga di penjara Tihar, kita pun dapat menghadirkan surga di mana pun kita berada. Tapi bagaimana mungkin bisa menjadi tempat yang nyaman dihuni jika di mana-mana terjadi gontok-gontokkan, perang, pembunuhan, penghancuran, karena tidak bijak menyikapi perbedaan? Bagaimana bumi bisa menjadi tempat yang layak dihuni, jika bumi terus dirusak dengan cara-cara sadis hanya karena masalah perbedaan?

Andai saja semakin banyak orang menyadari dan menghargai bahwa perbedaan itu kekayaan yang bisa membentuk sebuah simfoni kehidupan yang indah, maka semua makluk tidak perlu menantikan menikmati surga sesudah kematian tetapi bisa mulai mengecapi nikmatnya surga itu saat ini dan di sini, di bumi ini. Kenikmatan surga yang sesungguhnya bisa dinikmati Anda dan saya, selama hayat masih dikandung badan. Selama kita masih hidup. Tapi menghadirkan surga di bumi ini akan menjadi sulit terwujud karena manusia terlalu picik dalam menyikapi semua perbedaan. Manusia belum mampu menjadi orang baik bila berhadapan dengan orang lain yang berbeda dengan dirinya.

***
 

“ Hargailah perbedaan, maka engkau akan dihargai oleh DIA yang sudah menciptakan kita secara berbeda “ --- Michael Sendow

Jumat, 01 Juni 2012

Kaya Hati Miskin Harta?

Judul di atas itu hanyalah sebuah istilah belaka. Tapi istilah itu sesungguhnya akan terlihat makna dan kebenarannya pada beberapa gambaran pengalaman dan kenyataan masing-masing kita. Di manapun kita tinggal, kita akan terus bersinggungan dengan dua kata ini: Miskin - Kaya. Dan keabsahan dari apa yang saya tulis itu akan dibuktikan seiring berjalannya waktu. Bahwa mind-set kita pun tidak terlepas dari pergulatan antara miskin dan kaya. Mau tetap miskin atau ingin menjadi orang superkaya? Tanpa sadar juga kita mulai mengotak-ngotakkan dan mengelompokkan antara si miskin dan si kaya.

Di negara super maju seperti Amerika yang sangat kaya ternyata masih banyak bentuk kemiskinan lainnya. Yang paling mencolok adalah kebersamaan kekeluargaan. Miskinnya kebersamaan keluarga. Miskinnya kekeluargaan dalam kebersamaan dan kebersamaan dalam kekeluargaan. Apa maksudnya? Begini, di negara yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip liberasi atau kebebasan itu ternyata ada hukum tak tertulis tapi tersurat yang intinya bahwa anak berusia di atas 18 tahun sudah harus berdiri sendiri. Harus mandiri.

Anak yang sudah menikah “tabu” untuk tetap tinggal di bawah “asuhan” orang tua atau tinggal seatap di rumah mertua, hal mana mengandung dua kecenderungan anggapan. Pertama, hal itu dianggap baik karena menunjukkan tingkat kemandirian seseorang. Kedua, terlihat penonjolan kenegatifan cara berpikir, bahwa tingkat kekerabatan dan kerukunan keluarga yang kurang peduli dan kurang erat lagi. Dan tentu saja akan menampak di situ unsur individualitas yang tinggi. Pokoknya kalau sudah keluar rumah ”who cares” apa yang mau terjadi. Memang untuk urusan sekolah pun sejak masih kecil anak-anak sudah dilatih. Di banyak sekolah dasar di Amerika, budaya mandiri itu sudah diajarkan. Dilarang saling pinjam pensil, penghapus, penggaris, atau apa pun. Tiap murid harus mandiri. Barang siapa meminjam sesuatu dari kawan dihukum oleh guru. Tapi untuk sekolah dasar di banyak desa di Indonesia masih sangat kental budaya pinjamnya. Murid-murid merasa saling pinjam justru menunjukkan kekerabatan.


Ada banyak pengalaman penulis bersinggungan langsung dengan hal-hal seperti itu. Bahwa ternyata sifat bebas itu akan terbawa setelah seorang anak meningkat remaja dan akhirnya ia diharuskan keluar rumah mencari dan memperjuangkan kemandiriannya sendiri. Lantas kemudian efeknya ternyata tak sedikit yang justru menciptakan lahirnya sikap kurang peduli pada lingkup keluarga. Tidak semua memang, tapi tidak sedikit yang bersifat kurang pedulian dan tak mau tahu. Pernah beberapa kali berkunjung ke panti-panti asuhan, dalam acara-acara tertentu, saya melihat dan berbincang dengan oma-oma dan opa-opa di sana. Hampir semua yang ada di situ berkata sedih sambil menengok ke luar jendela. Katanya mereka berharap siapa tahu ada anak atau cucu mereka yang sekiranya datang mengunjungi mereka. Tapi tak satu jua yang datang. Mereka sedih, sendirian dalam penantian yang tak pasti. Lain Padang lain Belalang. Itu sudah lumrah di mana saja bahwa memang lain daerah lain karakternya, lain sofa lain keempukannya, lain kepala lain kutunya.

Di Indonesia, bahkan ada yang sudah menikah pun masih tinggal bersama keluarga. Terlihat betul bentuk keakraban dan saling mengasihi itu masih sangat kental (walau ada yang akan membantah bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar, tapi itulah yang masih begitu kentara.) Bahkan ada seorang professor pendidikan di Amerika yang pernah berkata, bahwasanya ia ‘iri’ melihat tingkat kebersamaan dalam lingkup keluarga-keluarga di Indonesia. Bagi dirinya, rata-rata mereka yang sudah dewasa (bahkan yang sudah menikah) tapi masih serumah sama orang tuanya adalah menunjukkan sikap toleran dan saling peduli. Rukun dan memiliki sikap mau berbagi. Walaupun tidak semua anak yang mau seperti itu, tapi kebanyakan memang tidak mempermasalahkan apakah orang tua mereka yang tinggal bersama mereka, atau sebaliknya. Pendek kata, tinggal serumah pun bukan sesuatu yang tabu dan harus dihindari. Apalagi bagi mereka yang masih sangat tradisional dan hidup di pedesaan. Kebenaran anggapan-anggapan tersebut tentu tidaklah mutlak. Bahwa kecenderungan-kecenderungan yang ada tidak serta-merta boleh digeneralisasi sebagai sebuah kenyataan yang absolute.

Tapi pendapat-pendapat tersebut bukan juga sesuatu yang obsolete. Sebab masih banyak seperti apa yang saya tuliskan itu Anda dapat jumpai di sana-sini. Nah, lantas apakah bentuk-bentuk kecenderungan itu boleh dikatakan terjadi karena secara kasat mata kita melihat orang Amerika lebih mementingkan ‘kerja otak’ ketimbang ‘kerja hati’? Dan Indonesia adalah sebaliknya? Bagaimana pendapat Anda? Lalu kemudian apa boleh dikatakan bahwa Amerika yang kaya raya itu ternyata miskin sifat kekeluargaan, mereka yang sudah beranjak dewasa menjadi minus terhadap rasa kebersamaan dan kekeluargaan, kurangnya rasa kepedulian terhadap kerabat atau yang masih ada pertalian saudaraan? Sebaliknya di Indonesia negara yang katanya masih kalah jauh dari Amerika dalam banyak hal ternyata sangat kaya akan rasa persaudaraan dalam keluarga? Masih cenderung sederhana dalam cara berpikir tapi sangat perhatian dan pedulian pada tataran antar sanak keluarga? Pernyataan-pernyataan ini tentu akan memancing reaksi yang berbeda-beda, tapi juga boleh dijadikan sebuah titik loncat menjembatani dua budaya yang sungguh berbeda. Berbeda secara asal maupun secara laku.

Saya percaya bahwa budaya yang berkembang itu tentu ada positif dan negatifnya masing-masing. Apapun pertimbangannya, dua kebiasaan yang berbeda itu patut dihargai sepenuh-penuhnya, apalagi jika terjadi perkawinan silang antar warga dua negara yang berbeda budaya dan adat kebiasaan.


Selasa, 22 Mei 2012

Mengenal Tokoh-tokoh Termuda Dalam Sejarah Yang Menjadi Doktor dan Profesor


1322225156523322321
Bagi saya, menyimak sejarah berbagai hal di dunia ini adalah suatu sesuatu yang begitu mengasyikkan, sesuatu banget githu lho. Semua itu turut memberi sumbangsih untuk menambah wawasan dan menjadi sarana pembelajaran yang luar biasa bermanfaat. Memicu dan memacu semangat kita untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik, dan lebih baik lagi. Berusaha berbuat dan menciptakan karya-karya terbaik yang kita punya, dan yang kita bisa.

Kali ini, mari kita simak dan lihat serta meneladani hal-hal positif dari para tokoh berikut ini. Mereka adalah professor-profesor dan doktor-doktor termuda, yang sudah mencatatkan diri mereka dalam sejarah dunia pendidikan. Baik itu pendidikan tingkat dunia maupun pada skala dunia pendidikan Indonesia. Adalah merupakan kebanggaan bagi mereka yang menghasilkan karya terbaik di usia yang masih belia. Contoh yang tentu saja begitu menginspirasi dan menguatkan, serta membanggakan kita.

Pemuda berikut ini meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena marga-nya (nama belakang) yang sangat mirip nama orang Jepang, maka tak jarang para petinggi Jepang mengajaknya untuk “pulang ke Jepang” demi membangun Jepang. Padahal ia sama sekali bukan orang Jepang lho. Tapi ternyata Prof. Tansu, begitu sering ia disapa adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Ia adalah warga negara Indonesia yang sangat brilian.

Sosok kita yang pertama memang adalah seorang pria bernama Nelson Tansu. Siapa sih sebernarnya pemuda ini? Mungkin banyak di antara kita yang sudah mengetahui sepak terjang beliau. Laki-laki muda yang lahir di Medan pada tanggal 20 Oktober tahun 1977 ini adalah merupakan lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis tim Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP).
Gelar sarjana di Wisconsin itu diraih dengan ‘sangat gampang’. Hal itu dibuktikan dengan menyelesaikan studinya tersebut hanya dengan waktu yang sangat singkat yaitu 2 tahun 9 bulan. Ia juga lulus dengan predikat Summa Cum Laude. Sebuah prestasi kelulusan tertinggi. Ia meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usianya yang baru ke-26 tahun.

Thesis Doktorat Nelson Tansu mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award”. Dan lagi, luar biasanya adalah tesis-nya itu mampu mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Pokoknya ia sudah menggondol sekitar 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai jurnal internasional dan merupakan visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai event internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .
13222246081922177615
Prof Dr. Alia Sabur
Sosok kedua kita adalah seorang gadis belia yang benar-benar luar biasa. Ia sudah tercatat dalam Guiness Book of Record sebagai Profesor Doktor termuda di dunia, bahkan mengalahkah rekor yang sudah bertahan selama 200 tahun yang dipegang oleh salah seorang murid Sir Issac Newton. Siapa wanita muda ini? Tidak lain tidak bukan, dialah Alia Sabur. Gadis belia ini dilahirkan di New York tepat tanggal 22 Februari 1989, ia kemudian sudah dinobatkan sebagai professor pada usia 19 tahun. Gadis ini menjadi professor termuda di bidang Matematika modern. Hasil tersebut tentu saja mencatatkan dirinya sebagai guru besar termuda dalam sejarah di halaman Guiness Book of Record.
 
Ia melompat kelas dengan sangat cepat. Lepas dari kelas empat Sekolah Dasar ia langsung melejit dengan tak tanggung-tanggung, menuju tingkat universitas. Pada usia 14 tahun sudah meraih gelar sarjananya dengan predikat kelulusan tertinggi juga, Summa Cum Laude. Tidak lebih dari lima tahun kemudian gelar master dan doktor pun sudah diraihnya secara gemilang.

Tapi wanita sederhana dan sangat bersahaja ini justru memilih untuk menjadi seorang dosen, padahal dengan segala kemampuan dan kepintaran yang ia miliki tentu saja banyak tawaran menggiurkan untuk menjadikannya orang yang kaya raya. Ia lebih memilih untuk menjadi dosen bahkan bukan di Amerika atau Eropa, tapi ‘hanya’ di sebuah universitas tak terlalu terkenal di Seoul Korea Selatan. Di Korea inilah Alia berlatih Tae Kwon Do secara serius, dan sudah berhasil berhasil menyandang sabuk hitam.
Nah, ketika ditanya kenapa lebih memilih untuk menjadi seorang dosen? Ia menjawab pertanyaan itu dengan sangat simpel, “Menjadi dosen merupakan bidang yang berbeda dari bidang lainnya. Dengan mengajar seseorang tidak hanya menunjukkan apa yang bisa dilakukan. Tapi ia juga memampukan orang lain untuk membuat perbedaan.” Sekali lagi, sungguh luar biasa gadis kita yang satu ini.

Siapa sosok berikutnya? Pemuda satu ini berasal dari India, terlahir dengan nama Tathagat Tulsi. Semasa kecil ia sudah menunjukkan banyak kelebihan. Kepintaran, luasnya wawasan, serta berbagai kelebihan lainnya membuat ia berhasil menjadi profesor termuda di India, yaitu pada usianya yang baru 22 tahun (beda 3 tahun dibanding Alia Sabur). Tapi gelar doktor (Phd) sudah diraih ketika baru berusia 21 tahun. Tathagat lahir 9 September 1987 di Patna, India. 

Karena luar biasa pintar, saat usia 9 tahun ia sudah menyelesaikan studi di sekolah menengah. Gelar PhD kemudian ia raih dari Indian Institute of Science. Kecerdasan dan kegeniusan Tathagat pernah diragukan oleh Departemen Sains dan Teknologi India. Ketika Agustus tahun 2001, waktu itu Tulsi baru berusia 13 tahun, ia dituduh tidak segenius itu dan kecerdasannya adalah palsu belaka. Kemudian ia akhirnya dibawa bertemu dengan pemenang Nobel di Jerman untuk membuktikan kecerdasannya. Apa yang terjadi? Ia ternyata mampu membuktikan semua karya karya ilmiahnya yang berkaitan dengan algoritma baru untuk pencarian quantum. Ia banyak menulis karya ilmiah yang berkaitan dengan algoritma quantum. Sungguh luar biasa.

13222246701002699042
Dr Cindy Priadi
Lalu siapa sosok kita berikutnya? Namanya cantik, secantik orangnya. Cindy Priadi. Ia meraih gelar doktornya pada usia yang relatif muda, masih 26 tahun! Ya, pada usia tersebut Cindy berhasil meraih gelar doktornya di Universitas Paris-Sud 11, Perancis.

Gadis cantik ini lahir di Bandung, 30 Januari 1984, dan ia begitu tertarik pada kebudayaan Eropa serta hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Dalam program masternya, Cindy mengambil program studi Ilmu Lingkungan dengan tesis berjudul “Caracterisation des Phases Porteuses: Metaux Particulaires en Seine” dan berhasil menyelesaikannya dengan mulus pada tahun 2007 lalu. 

Untuk program doktoral-nya, Cindy mengambil program studi Geokimia Lingkungan. Dan, ia mungkin saja memang adalah doktor termuda di Indonesia, tapi dengan rendah hati ia menepisnya secara halus puja-puji terhadap dirinya. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya semua orang bisa melakukan apa yang ia lakukan, asal saja ada kemauan dan menetapkan skala prioritas. Ia juga berharap bahwa dengan semua kapasitas yang ia miliki saat ini dan di waktu yang akan datang, supaya boleh memberikan banyak gagasan kepada masyarakat Indonesia. Harapan yang luar biasa dan tentu saja patut diancungi jempol.

Nah, sebenarnya masih banyak sosok-sosok muda lainnya yang begitu banyak bermunculan. Seperti juga gadis muda yang luar biasa berikutnya. Siapa lagi kalau bukan Ima Mayasari. Ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Hukum pada usianya yang baru 28 tahun. Doktor termuda lulusan Universitas Indonesia ini berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Sengketa Izin Pertambangan di Era Otonomi Daerah, dengan mengangkat Studi Kasus: Sengketa Izin Pertambangan antara Badan Usaha Milik Negara Pertambangan dan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Halmahera Selatan (Periode Tahun 2007-2011)”.

Masih penasaran dengan sosok-sosok lainnya? Okelah, kali ini mari kita terbang ke ujung Utara pulau Sulawesi. Wanita muda ini adalah seorang dosen di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Nama lengkapnya adalah Donna Akthalia Setiyabudi. Ia berhasil meraih gelar doktornya pada usia 28 tahun di Unhas, Makassar. Dan mencatatkan dirinya sebagai doktor termuda di Unsrat.

Disertasi-nya berjudul “Hakikat, parameter dan peran nilai lokal peraturan daerah dalam rangka tata kelola perundang-undangan yang baik”. Di situ antara lain dijelaskan bahwa peraturan Daerah (Perda) pada hakikatnya merupakan instrumen hukum penyelenggaraan pemerintahan daerah yang termasuk rezim legislasi (legislation regime), maka wujud legislasi Perda mencakup local legislation dan sub-ordinary legislation.
Ia mengatakan bahwa, “Sebagai local legislation, Perda merupakan peraturan perundang-undangan yang dibentuk untuk mengatur hal-hal yang belum diatur oleh pemerintah pusat atau materi yang tidak penting diatur oleh pemerintah pusat, khususnya materi yang berkaitan dengan kondisi khas daerah. Sehingga, Perda dapat berfungsi untuk mengisi kekosongan hukum yang mungkin terjadi di daerah akibat adanya kondisi khas atau khusus yang tidak dapat diakomodasi oleh aturan yang bersifat nasional.” (MS)

Jumat, 30 Maret 2012

Potency of Indonesian Market

POTENCY OF INDONESIA

A.   Economy

Indonesia is a country located in Southeastern Asia between the Indian Ocean and Pacific Ocean. It has a strategic location astride major sea lanes and is an archipelago of more than 17,000 islands. Indonesia has a mixed economic system in which the economy includes a variety of private freedom, combined with centralized economic planning and government regulation. Indonesia is a member of the Asian Pacific Economic Cooperation (APEC) and Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) as a leader and the headquarter office is in Jakarta.

Indonesia is the third fastest growing economy in Asia and the largest economy in Southeast Asia. Indonesia’s economy grew by 6.5% in 2011 and forecast to climb to 6.9 in 2012, marking the highest percentage in over a decade.  This GDP growth, however, is not unprecedented because in seven of the last eight years Indonesia’s GDP has grown by more than 5%.  In the last couple of years, corporations and investors have begun to compare Indonesia’s economic growth potential with the likes of India and China.  Strong growth and political stability are two of the main reasons why corporations and investors share this confidence. Indonesia's balance of payments for 2011 also registered a surplus of US$11.9 billion.

Another great sign for Indonesia’s economy is that foreign direct investment increased by 20% last year. And last year experienced higher economic growth than any of its neighbors in this region. In terms of fiscal and monetary conditions, Indonesia is much better than European countries as Indonesia fiscal burden lighter. In monetary policy for example, Indonesia needs to raise SBI (Interest rate) only once while China, Singapore and India need to raise central banks rates 7-9 times in the past 19 months.


B.   Market Potential

·        The consumer market continues to lead growth in Indonesia as the world’s fourth-largest country with more than 240 million citizens (2012), not less than 50% of whom are under the age of 30.
·        Indonesia is a thriving democracy with significant regional autonomy. It is located on the world’s major trade routes and has extensive natural resources.
·        It is a top-ten market for U.S. agricultural products and within the top 30 overall markets for U.S. exports.
·        The number of households in Indonesia with US$5,000 to US$15,000 in annual disposable income is expected to expand from 36% of the population to more than 58% by 2020.
·        More than 60 million low-income Indonesian workers are projected to join the middle class in the coming.
·        Social networking penetration: Indonesia’ Internet users increased from 45 million people (2010) to 55 million people in 2011. Facebook users in Indonesia more than 43 million people, 3rd rank in the world as per March 2012 (by facebook.com). Twitter users in Indonesia 19.5 million people, 5th rank in the world and 1st rank in Asia as per January 2012.
·        Indonesia was ranked 9th as major destination for FDI. The most attractive economies for the location to invest (world investment prospects).
·        Growing markets include: renovation and construction of regional and municipal infrastructure, military upgrading, safety and security systems and protection of sea-borne traffic.
·        Data from Bank Indonesia (BI) showing that a total of 13.22mln credit cards were in circulation in the country to October 2010.
·        Business Monitor International (BMI) on Indonesia Retail Report forecasts that the country’s retail sales will grow from 1.39trn (IDR) / (US$133.89bln) in 2011 to 2.30trn / (US$222.41bln) by 2015.
·        During Q4/2011, inflows of Foreign Direct Investment (FDI) reached USD4.4 billion, up significantly from USD3.0 billion in the previous period.
·        With market perceptions returning to be positive, portfolio investment showed improvement during last year (2011).

Rabu, 29 Februari 2012

Mantan Tukang Sapu Jadi Presiden

Bagi sebagian orang, tukang sapu adalah pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Padahal menjadi tukang sapu di jalan raya, di rail kereta, di mall-mall besar sebenarnya punya tantangan tersendiri. Bagaimana membuat dan menjaga public place tersebut tetap bersih sepanjang hari, bagaimana pula supaya dapat bekerja dengan sabar. Kenapa harus sabar? Karena tempat-tempat umum tersebut akan dengan mudahnya kotor kembali walaupun baru selesai dibersihkan. Pekerjaan yang butuh kesabaran ini tentu tidak banyak orang yang suka, atau bakalan menolaknya kalau bisa memilih. Tapi pekerjaan inilah yang pernah dilakoni seorang Michael yang akhirnya terpilih sebagai seorang presiden.

Michael pernah menjadi tukang sapu di suatu stasiun kereta Victoria di London Inggris. Tempat yang begitu jauh dari tanah kelahiran dan sanak saudaranya. Ia yang pada saat itu sementara menimba ilmu politik di London mengalami kekurangan dana untuk menyambung hidup di negeri orang. Akhirnya, membuang rasa malu, ia mencoba melamar pada perusahaan British Air sebagai seorang petugas kebersihan. Tukang sapu stasiun. Ia diterima bekerja di situ, pekerjaan yang juga akhirnya membentuk dirinya menjadi sabar, ulet dan pantang menyerah.
13170489651737542348 

Laki-laki berkulit hitam ini lalu pulang kampung kembali ke negara asalnya. Zambia. Michael kemudian masuk dan terlibat aktif pada partai yang berkuasa saat itu. Dan memang rupa-rupanya di negeri asalnya untung lebih memihaknya, karirnya di bidang politik meningkat pesat dan cepat. Ia dipercayakan menjadi Menteri Kesehatan dan Menteri Tenaga Kerja. Tapi akhirnya dengan membulatkan tekad ia keluar dari pemerintahan lalu membentuk partai sendiri dan memilih untuk menjadikan partainya yang bernama Patriotic Front sebagai partai oposisi.

Dalam beberapa kampanyenya, lelaki tua yang sudah berusia 74 tahun ini (lahir 1937) berulang kali mengatakan bahwa ia akan membersihkan Zambia dari sampah-sampah korupsi. Ia bertekad membersihkan semua ‘kotoran’ itu segiat dan seulet ketika masih menjadi tukang sapu yang membersihkan kotoran di stasiun kereta di London.
Saya tidak pernah mengeluh apa yang saya kerjakan. Saya ingin menyapu negeri saya, bahkan ingin membuatnya lebih bersih dari yang saya lakukan saat menyapu stasiun kereta Anda.” Demikian tuturannya ketika diwawancarai wartawan Inggris, dan dirilis koran The Telegraph.
Michael adalah seorang tokoh politik yang sabar dalam perjuangannya tapi tegas dalam pendiriannya. Ia dijuluki ‘King of Cobra’. Raja Kobra. Alasannya? Karena ia sangat kritis dan tegas. Ia terang-terangan menolak dominasi perusahaan-perusahaan tambang asing, terutama yang dari Cina yang mendominasi negaranya. Ia berjuang demi pemberantasan korupsi dan berusaha membuat masyarakat sejahtera. Ia juga bertekad menegakkan hukum yang bersih. Bahkan ia berjanji tidak akan meminum air kemasan sampai “semua rakyat Zambia memperoleh hak yang sama atas akses air bersih.” Janji tersebut dapat dibaca di website Partai Patriotic Front yang dipimpinnya.
13170327371209170626
Michael Sata (From: MichaelSata Off. Site)

Nah, Michael Sata inilah yang telah disahkan oleh Mahkama Agung tanggal 23 September 2011 yang lalu sebagai pemenang pemilu dan berhak menduduki kursi Zambia I. Ia mengalahkan Presiden Zambia sebelumnya, Rupiah Banda. Perbedaannya cukup tipis, 1.150.045 suara berbanding 961.796 suara (Data Reuters). Tapi walau hanya berbeda tipis, kemenangan itulah yang menjadikannya presiden ke-5 Zambia.
Ada catatan yang boleh dipetik dengan terpilihnya mantan tukang sapu stasiun ini, sebagai bahan pembelajaran untuk pemimpin partai politik, penguasa dan bahkan calon presiden kita. Bahwa komitmen, keuletan, kesabaran mesti ditunjang dan didukung kesediaan ‘menderita demi rakyat yang dipimpin’. Bahwasanya apa gunanya baju mewah yang Anda pakai, istana mewah yang Anda tinggali, mobil bagus yang Anda kendarai, kalau semuanya itu hanyalah topeng keangkuhan dan egoisme serta kerakusan belaka. Ketika Anda berdiri di atas penderitaan rakyat, dan duduk nyaman di atas kemiskinan rakyat jelata. Memperkaya diri sementara gap antara yang miskin dan kaya terus melebar dan semakin lebar.

Michael Sata pernah menjadi tukang sapu. Tapi ia berjanji akan tetap menjadi ‘tukang sapu’ walaupun sudah menjadi presiden. Ia berjanji untuk menyapu dan menindak semua pelaku kejahatan hukum, koruptor dan pelaku-pelaku ketidak-adilan di Zambia. Sosok ini tentunya menjadi inspirasi anggota partainya, bahkan semua anak bangsa di negeri yang sudah mulai dipimpinnya itu.
Rasa-rasanya kita kita juga perlu sosok dan tokoh penguasa yang dapat dijadikan anutan, yang dapat dicontohi dan diteladani. Semoga ada. Atau akan ada nantinya.
Michael Sendow.

Kamis, 30 Juni 2011

Menertawakan Diri Sendiri Itu Penting.

Menertawakan Diri Sendiri Itu Penting.

Kepala orang ini tiba-tiba ada di dalam tubuh seekor kalkun raksasa. Di hari yang lain ia secara tiba-tiba berada di dalam kamar operasi dan bertindak sebagai seorang dokter, duh! Betapa kagetnya pasien ketika melihat siapa dokter di hadapannya itu. Ia juga pernah makan ikan hias hidup-hidup saking laparnya dan tidak ada lunch bagi dirinya. Ikan itu diselip di antara roti tawar miliknya berikut selembar sayur kol. Itulah beberapa adegan lucu seorang Rowan Atkinson yang berperan sebagai Mr.Bean.

Kita sering dibuat tertawa oleh adegan-adegan film lucu. Salah satunya adalah film Mr.Bean ini. Adegan lucu Mr.Bean bahkan membuat kita terbahak tanpa mendengar ia berbicara sama sekali. Gerakannya, mimik mukanya, tatapannya dan gerak-geriknya saja sudah membuat kita geli dan tertawa.

Tertawa itu sehat. Tertawa itu obat awet muda, bahkan ada pendapat seperti itu. Tertawa itu membuat hati kita senang. Bahkan pun ketika kita sementara menertawai orang lain. Memang naluriah dasar manusia adalah menjadikan orang lain itu sebagai objek, termasuk dalam hal tertawa. Artinya, kita begitu senang ketika bisa menertawakan orang lain. Waktu kita kecil, melihat teman kita terjatuh kita tertawa secara spontan, merasa lucu. Setelah dewasa pun kita tertawa ketika melihat ada orang lain yang “jatuh”, walau kita bukan tertawa lucu lagi, melainkan tertawa senang. Senang lawan kita jatuh, kalah, tersingkir, terluka dan masih banyak lagi.

Kemudian marilah kita lihat acara-acara TV yang sering membuat kita tertawa sekuat-kuatnya, terpingkal-pingkal ketika melihat kejadian-kejadian spontan di acara-acara seperti “spontan”, “big laugh”, “America’s funniest home video” dan masih banyak lagi. Orang mengerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang dikerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang kena musibah kita tertawai. Memang ada juga video kelucuan sering dengan sengaja dibuat (dibuat-buat) untuk memancing tawa. Tapi bagaimana kalau kita ada di posisi orang-orang yang ditertawai itu?



Nah, pernahkah terpikir oleh kita untuk sekali-kali menertawakan diri sendiri? Menertawakan diri sendiri sebenarnya sehat juga, bahkan jauh lebih sehat daripada sekedar menertawakan orang lain. Dengan menertawakan diri sendiri kita diajak mengintrospeksi diri atas semua kebodohan kita, kelalaian kita, kesembronoan kita. Maka tertawalah ketika Anda tidak lulus ujian sambil mengatakan “betapa bodohnya saya!”, tertawalah ketika Anda terlambat ke kantor karena bangun kesiangan, waduh kok bisa-bisanya. Tertawalah ketika keteledoran Anda membuat usaha yang sedang dibangun jatuh bangkrut. Lalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Menertawai diri sendiri itu memang sehat dan perlu.

Mungkin Anda kenal dengan tokoh Nasrudin? Menurut catatan ia sebenarnya adalah seorang sufi yang hidup di Turki pada abad ke-14. Ada ratusan anekdot tentang si Nasrudin ini yang merupakan paduan humor dan satire (gaya bahasa sindiran). Bahkan ada sekitar hampir seratus buku dalam bahasa Inggris yang berisi koleksi dan analisa cerita Nasrudin.

Kalau kita membaca anekdot-anekdot Nasrudin ini sarat akan kebenaran yang menusuk, namun dikemas sedemikian rupa sehingga pembaca tidak menjadi marah, atau tersinggung, melainkan justru sering malah menertawakan diri sendiri.

Karakter Nasrudin digambarkan sebagai seorang yang meyakini suatu keyakinan yang jelas. Tapi ia meyakininya dengan sifat lugu, artinya wajar serta apa adanya. Keyakinannya selalu terungkap dengan sederhana namun padat dan jelas. Keluguan itu pula yang membuat pesan kebenaran Nasrudin menjadi ampuh.

Mari kita simak cerita Nasrudin yang punya nilai sederhana tapi dalam.
Nasrudin sedang duduk di tepi pantai. Tiba-tiba ada orang tenggelam dan berteriak minta tolong, “tolong, tolong!” Langsung orang-orang berteriak, “berikan tanganmu!” Tetapi orang itu tidak mau mengulurkan tangannya. Lalu Nasrudin mendekat dan berteriak, Ambil tanganku!” Ketika itu juga orang tadi meraih dan memegang erat tangan Nasrudin. Semua orang heran dan bertanya, “Nasrudin, mengapa dia tidak mau menanggapi teriakan kami?” Nasrudin menjawab, “Orang ini terkenal kikir. Ia tidak mau memberi, ia hanya mau menerima.”

Masih mau dengar cerita Nasrudin lainnya?

Nasrudin melakukan perjalanan bersama dua orang kawan. Ia lapar dan ingin membagi roti satu-satunya yang dimilikinya. Tetapai kedua teman yang belum lapar itu berkata, “Besok sajalah! Malam ini kita langsung tidur. Barangsiapa yang mimpinya paling bagus, dia boleh makan roti ini.” Keesokan harinya seorang teman berkata, Mimpiku bsangat bagus. Aku melihat nabi.” Temannya yang lain berkata, “Mimpiku lebih bagus lagi. Aku melihat Tuhan.” Sekarang giliran Nasrudin. Dengan suara perlahan dan kepala menunduk Nasrudin berkata, “Aku tidak melihat nabi dan juga tidak melihat Tuhan. Yang kulihat adalah istriku. Ia menyuruh aku memakan roti itu. Lalu aku segera bangun dan langsung memakan roti itu. Sekarang roti itu sudah habis.”

Apa? Masih pengen dengar cerita Nasrudin lagi? Nanti lain kali saja yah, sekarang waktunya untuk tertawa. Ha ha ha!