Tampilkan postingan dengan label Corruption. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corruption. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Januari 2011

"INTERMEZZO"

INTERMEZZO
(Refleksi ketika aku berada di kotaku beberapa tahun lalu)

Aku adalah aku, sosok yang akan mengisi alur cerita saat ini, sekalipun aku punya nama tapi adalah lebih baik kalau aku dikenal sebagai sosok “AKU” saja, agar tidak terkesan sombong. (Dan tidak terkesan sumbing).

Nah, aku ini adalah seorang manusia yang berjenis kelamin pria, usia(…..) tahun, belum beristri dan yang paling keren adalah karena dibelakang namaku ada embel-embel yang bikin orang mengenalku sebagai seorang sarjana, tapi sayangnya aku ini masih nganggur bersama teman-temanku pengangguran lainnya sayangnya kata nganggur yang dipakai disini lebih condong kearah tidak mempunyai pekerjaan dari pada artian menjual anggur.

Kala itu, pada suatu malam yang cerah, tepatnya tanggal 17 April (sehari setelah ulang tahunku) Tahun 2000, pukul 22.43, aku duduk sendirian di serambi rumahku, maksudku rumah kedua orang tuaku, sambil memandang bintang-bintang kecil dilangit aku menghayalkan seandainya aku adalah orang kaya, terlintas lagu yang dinyanyikan temanku Oppie Andriesta, andai a a a a a aku jadi orang kaya….
Aku melamunkan seandainya aku punya uang banyak misalnya 1.3 Triliun sejumlah yang konon pernah dipinjam tapi lupa dikembaliin oleh bung eddie tansil (namanya huruf kecil aja), atau mendekati jumlah yang disimpan tetanggaku si Adrian itu!

Setelah uang yang lumayan banyak itu ada, rencananya aku akan membuat hal-hal besar seperti proyek2 yang nantinya harus diresmikan oleh at least Wapres.
Kemudian sebagian dari uang itu akan kupakai untuk membangun rumah pribadiku yang rencananya harus ada dimana-mana dengan jumlah total kamar 2033 kamar (sebagian buat disewakan buat anak2 pelajar dikotaku.).
Membeli 16 mobil pribadi berbagai merk yang keren-keren dan yahud punya, tentunya.
Memperkerjakan paling sedikit 30 orang TK untuk mengurus rumahku yang sederhana itu berikut mobil-mobilnya, dan tentunya mereka akan aku gaji dengan baik yaitu diatas upah minimum regional (Minimum Wage Standard).

Setelah itu aku akan mendirikan berbagai panti asuhan dan aku juga akan menyumbang kepanti asuhanku itu sehingga namaku semakin terkenal, padahal uangku akan kembali karena panti-panti itukan miliku juga.
Selanjutnya aku akan mencoba jadwal makanku yang baru, pagi sarapan diSingapura bersama PMnya juga dengan si Sultan Brunei (yg sudah ku telpon sehari sebelumnya), siangnya makan siang di Paris bersama mitra bisnisku yang baru…itu lho si Donald Trump, dan makan malam di Las Vegas dengan beberapa Menteri kolegaku yang baru juga. Di Las Vegas kusempatkan untuk nonton pertandingan tinju-nya Mike Tyson yang sudah di atur si Trump dan habis nonton si Trump pun cerita bahwa dia dapat banyak dari hasil tinju itu, dan aku diberinya sebagai oleh-oleh segepok dollar yang kalau dirupiahkan yaaah, sekitar 2 kali APBD daerah Nyiur Melambaiku.

Sekembalinya ketanah air dengan pesawat pribadiku, aku dikejutkan dengan berita bahwa sebentar lagi akan ada kerusuhan ….eeeh maksudku sebentar lagi pesta demokrasi PEMILU akan segera tiba waktunya, ternyata aku lumayan lama bercokol dinegeri orang (lupa ya?), aku jadi malu sendiri, karena sampai lupa kalau aku masih punya negeri sendiri.
My home country always gonna be the best for me. Indeed! Menurut Etymologynya Home Country adalah :The country in which a person was born and usually raised, regardless of the present country of residence and citizenship.

Mendengar berita itu akupun semakin mempersiapkan diri sebaik mungkin, siapa tahu aku nantinya bisa dipercayakan oleh rakyat (bukankah uangku banyak) untuk menyuarakan suara mereka karena biasanya mereka kurang begitu baik menyuarakan suara sendiri yang kadang terdengar fals ditelinga sendiri (saya siap menjadi wakil mereka!).
Sebelumnya aku mampir ke bank yang menyimpan banyak hartaku dan setelah dicek kembali sisa uangku tinggal 987M, wah uang segitu cukup buat apaan pikirku, kata ponakanku kalau dibeliin krupuk bisa dibuat lingkaran yang mengelilingi Indonesia!

Sambil berpikir-pikir tindakan-tindakan apa yang harus aku ambil, tiba-tiba pintu diketok yang ternyata si pak ErTe kita, ngobrol sana-sini, sampailah beliau pada pesan-pesan yang sebenarnya intinya mengatakan bahwa “…..PEMILU semakin dekat, Pakailah HAK PILIH anda sebaik-baiknya…”
Koran terbitan pagi, besoknya telah menantiku dimeja sarapan, aku melirik sekilas terdapat topik dengan cetakan besar “PEMILU SEMAKIN DEKAT, PAKAILAH HAK PILIH ANDA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA”

Sekalipun aku orang kaya, aku tidak pernah melupakan untuk melihat perkembangan yang terjadi di daerah-daerah lewat berita Televisi, Koran, Internet,dll. Dimalam itu aku agak terlambat menyalakan TV sehingga hanya “…..PEMILU tinggal (……..) hari lagi, pergunakanlah hak pilih anda dengan baik…”Yang sempat kudengar.
Keesokann harinya aku menyempatkan diri jalan-jalan melihat-lihat daerahku ini agar jangan kulupa bahwa aku ini asli orang Manado sekalipun lebih suka bergaya Amerikana, dan alangkah terkejutnya aku ketika melewati Boulevard, yang selama ini dijadikan tempat santai para remaja maupun yang tua-tua menikmati indahnya senja hari dan eloknya pemandangan sekitar, serta panorama sunset, tapi kini yang kulihat dan terlihat hanyalah tembok-tembok tak beraturan dan gedung-gedung sebagai pemisah antara hakku untuk menikmati alam ini dengan alam itu sendiri, aku bahkan sempat berpikir mungkin juga lautan dan pemandangan itu juga sedih karena tak bisa melihatku lagi, dan ketika aku bertanya mengapa, aku mendapat jawaban yang sangat memuasakan serta simple bahwa : “Demi Kepentingan bersama”, oooh itu toh jawabannya…..For our own good..? Really….??
Sembari berjalan kembali ke mobil BMWku akupun berpikir seberapa banyak tempat yang bisa kubeli dengan sisa uangku agar nantinya dapat kunikmati sendiri keindahan alam itu dan yang lain kalau mau ikut menikmati harus bayar padaku dan aku akan menjadi semakin kaya saja.

Braaakk…Ciiitttt….Bruuuuk….Buuuuuum.! Ternyata mobilku si BMW itu menyenggol sampai menabrak tembok pagar sekaligus dengan pohon kelapa dan tempat sampah yang memiliki sampah lebih banyak diluarnya daripada didalam. Aku sadar tidak baik mengendarai mobil sambil ngelamun apalagi tidur, tapi terlambat. Segerahlah ku dial melalui HP buatan Nokia Finland terbaru (yang paling canggih, kala itu belum ada Black Berry) nomor rumahku untuk minta dikirimin mobil lainnya.
Tak lama berselang mobil Jaguar Biruku telah sampai, dan yang BMW itu kutinggalkan saja sedemikian rupa yang akhirnya dikerumuni orang sambil melongo, mungkin mereka heran ada BMW teronggok begitu saja ditempat sampah, pikir mereka biasanya yang ada bayi malang kok sekarang ada mobil malang, aku sih cuek aja sambil ngeloyor pulang.

Suatu saat aku tiba di suatu pelosok daerah yang agak terpencil, kupelankan laju kendaraanku, samar-samar kulihat ada kerumunan orang, rupanya orang-orang kampung sedang berkumpul dan lambat-lambat kudengar kata-kata yang disampaikan lewat pengeras suara “….Saudara-saudara Pemilu semakin dekat, pergunakanlah hak pilih anda dengan sebaik-baiknya…”.You have to make the right choice no matter what.
Dan begitulah, ternyata dari desa terpencil sampai kantor-kantor pemerintah di kota agak besar hingga yang paling besar, disetiap media cetak dan elektronik, kata-kata mujarab sebelum pemilu selalu ada. Even though not so many people understand that well.
Sesampainya dirumah aku berpikir, mengapa hak kita untuk memilih selalu diperhatikan dengan seksama dan dengan sebaik-baiknya, sebaliknya derajat hak kita yang sama yaitu untuk dipilih kurang disinggung-singgung, seandainya yang dibicarakan bukan hanya hak memilih tapi juga hak dipilih maka akan samalah hak kita, artinya yah kalau bisa mbok ya sekali-kali kita yang dipilih dan merekalah yang memilih….jang talalu golojo kine! Tapi saya sadar sesadar-sadarnya bahwa semua ini hanyalah seandainya saja, bahkan keesokan harinya terdengar berita bahwa bankku dimana aku simpan uangku itu telah kebobolan, akibat kasus Comercial Paper yang menghebohkan itu dan semua uangku itu ikut lenyap, tak tahu kemana rimbanya. Aku marah-marah, sempat maki-maki, herannya aku benar-benar lupa kalau semua itu hanya sekali lagi ‘seandainya’, ‘seumpamanya’ ‘misalnya’, ‘andaikata’ belaka……………….

Dan memang….selama ini aku hanya dan terus, serta masih berada pada tempat dan posisi yang tetap yaitu duduk termenung didepan rumah orang tuaku itu sampai tak menyadari diriku telah dipindahkan nyamuk yang mungkin marah tempat mereka aku ambil alih tanpa izin resmi…kupakai berjam-jam lagi….sekali lagi tanpa izin! ! Dari sudut kamar depan sayup-sayup ku dengar berita TV tentang Gayus, tentang RIM BB yang lagi dihajar si Bapak Mentri, juga berita tentang lelucon korupsi di negeri ini yang semakin menggila dan mengganas…In Indonesia corruption is a big problem, and corruption is not unique to Indonesia, therefore only Indonesians can overcome corruption in Indonesia..!

Beruntunglah saya, karena semuanya ini hanya lamunan belaka. Atau sayang sekali karena ternyata ini hanya lamunan dan khayalan , dan bahwa aku tidak benar-benar kaya raya ?..........Aaaagghh aku perhaps harus lebih memilih kenyataan yang sekarang. Then I have to have a guts to accept this reality.
Bukan main kalau ini benar terjadi…………..Andai..aaa..aaaa.aaaa.a.a.a.a.a!!!



Leahcim 3 Wodnes

USA-MDO, 2010/2011

Rabu, 20 Februari 2008

" The Soprano State "


" Corruption is worse than prostitution. The latter might endanger the morals of an individual, the former invariably endangers the morals of the entire country " -- Karl Kraus

Kemarin saya sempat mampir di toko buku ternama di seputaran Menlo Mall-belakang Roosevelt Park. Hari hujan, cuma gerimis memang, tapi mau tidak mau saya harus mampir berteduh, maklum udara masih sangat dingin ditambah angin kencang. Di pojok toko buku bernama Barnes & Noble (salah satu yang terlengkap disini) ada sebuah kafe kecil, nah pengunjung bisa membaca buku sepuas hati-bila tidak ingin membelinya- sambil minum bermacam-macam kopi. Karena udara dingin, saya pesan kopi hangat "Coffe Latte". Hangat, nyaman.
Sambil menunggu hujan reda, sayapun akhirnya tertarik dengan sebuah buku yang baru terbit, tepat di atas rak di depan saya. Sembari minum kopi hangat tersebut saya raih buku yang di depannya ditulis besar-besar judulnya " THE SOPRANO STATE " ditulis oleh Bob Ingle dan Sandy McClure. Gambar depannya adalah dua pasang tangan sedang berjabat erat. Buku ini menarik minat saya gara-gara saya tinggal di New Jersey dan buku itu membahas tentang korupsi yang katanya 'maha-dahsyat' sudah membelenggu negara bagian ini selama 30 tahun terakhir. Didepan buku itu tertulis demikian New Jersey's Culture of Corruption.

Saya penasaran, sebab "Garden State" demikian sebutan untuk NJ adalah salah satu state yg termasuk "biasa-biasa" saja di banding Washington DC, California, NY, dan lainnya. Akhirnya saya baca buku itu seperempat halaman - sisanya, kemudian saya baca dirumah, karena hujan reda saya mesti pulang padahal bacaan menarik itu belum tuntas, maka saya beli -.

Yang sungguh menarik adalah bahwa ternyata tingkat korupsi yang paling parah di seluruh Amerika ada di tempat saya tinggal ini. Heeeem, WoW.
Dalam buku itu di tulis secara detail bagaimana orang-orang entah dia dari partai Democrat, Republican dan orang banyak bekerja sama "menguras" para pembayar pajak sehingga menciptakan pemerintahan yang menjijikkan. Buku itu menunjukkan dengan jelas hubungan dan peran antara para administrator, para pengacara dengan klien-klien mafia; menjarah secara halus.
Penulis buku ini juga mengatakan bahwa alasan buku ini diberi judul "The Soprano State" diangkat dari judul salah satu acara TV terkenal Tony Soprano's Jersey Crew. Keluarga Mafia. Mereka mengatakan peran orang banyak sudah pasti, sebagai tambahan pemerintah disini sering bertindak seperti orang banyak itu.

Buku ini menulis banyak contoh-contoh luar biasa bagaimana itu mafia korupsi sudah meresap ke semua lapisan/aparat/petugas yang melakukan public business. Diilustrasikan bagaimana itu pajak tempat tinggal dan kepemilikan di buat. Mereka menyebutnya sebagai " entirely too much government ". Dan juga NJ memiliki lebih banyak public employee per square mile di banding seluruh State di Amerika, kecuali Washington,D.C.
Di NJ pemerintah tidak sedang berusaha menangani apa yang masyarakat tidak bisa lakukan sendiri. Itu masalah pekerjaan, pemerintah banyak menciptakan "pekerjaan" yang tidak perlu, ujung-ujungnya korupsi duit rakyat. Itu adalah 'pekerjaan' pemerintah, tentu saja. Dan bukan hanya birokrasi di State yang besar.
NJ memiliki 566 kota, 616 school districts, 21 kecamatan, dll...
Jersey mungkin termasuk diantara yang paling kecil diantara state-state yang ada di Mid-Atlantic. Urutan 46 berdasarkan luas tanah. Tapi dengan adanya 616 Pengawas/Ketua yayasan sekolah maka menjadikan NJ lebih banyak bahkan dari tiga state di gabung Maryland, Virginia dan Delaware. Rata-rata pendapatan mereka $150.000 per tahun, para asisten dan administrator merekapun punya penghasilan yang sangat besar, sementara di state lain diperuntukkan untuk pembangunan gedung, sarana dan prasarana, kepala-kepala sekolah, guru dan murid...

Mereka juga menyebutkan bahwa ada sekitar 444.000 pekerja pemerintah (pegawai pemerintahan) 154.500 di pusat (Pemda), 19.119 elected officials, belum dihitung 120 pekerja di bidang hukum yang bekerja di kantor Pemda setempat.
Mereka menghitung-hitung untuk kemudian datang kepada angka ini : 81 pegawai pemerintahan per square mile, dibandingkan dengan rata-rata nasional yang cuma 6.

Ada banyak contoh-contoh sadis lainnya, katakanlah bagaimana scandal yang terjadi di dunia Medic dan sekolah untuk para dokter-dokter gigi. Beberapa dokter utama di bayar sebesar 5.7 juta USD untuk -no-show jobs. Bahasa orang kita "suap". Untuk sekedar dapat rekomendasi dan dukungan yang akhirnya terlucurlah dana sebesar mendekati 36 juta USD untuk institusi.
Salah satu terdakwa adalah Senator Wayne Bryant, dia pernah dibayar sebagai seorang konsultan kerja paruh waktu (part-time) di salah satu sekolah dengan bayaran sebesar 32.000 USD per tahun juga karena kemampuan dia melobi supaya itu sekolah/universitas dapat dana terus dengan menggunakan kedudukan/jabatannya.

Eeeh, diluar sudah cerah lagi, so terlalu panjang bercerita tentang tidak cerahnya New Jersey ini karena korupsi. Mereka mengatakan bahwa di Jersey ini banyak politikus yang sakit sampai-sampai muncul istilah " chronicles all of the political ills that have turned New Jersey into one of the biggest jokes in America regarding corruption ". Jadi kalau tertarik membaca buku ini, silahkan beli di Barnes and Noble. Mungkin bisa beli online, atau mungkin sudah beredar di toko buku setempat selain Barnes and Noble.

Catatan tambahan : Tidak heran saya, karena di New Jersey sini ada tempat tinggal bernama Avenel. Untuk bisa menyewa Apartement disitu, sebagaian besar warga Indonesia mesti memberi "uang pelicin" sebesar 2500 - 3000 USD. Karena yang antri banyak. Menurut rumor, orang kita sendiri yang memulai cara 'suap' duluan dan akhirnya management 'ketagihan' terima-terima duit suap..he..he...he.
Ada juga para pengacara yang musti di beri "uang siluman" baru mau kerja. Ada yang malah menipu, mengkorup duit klien, dan itu sering dialami warga Indonesia disini.

Akhirnya, ternyata korupsi ada dimana-mana tidak cuma di negeri kita bernama Indonesia itu. Korupsi itu memang penyakit, itu mesti di basmi. Betul si Kraus, bahwa korupsi lebih berbahaya dari prostitusi. Eeeh, sudah jo dulu so mo cabut atik.....bye!